by

Editorial: Masyarakat Kelas Kreatif Suatu Kota

foto: archieve Daily Makassar©

Dailymakassar.id. MAKASSAR. Kota adalah kawah kreativitas (cities are cauldron of creativity), tulis Richard Florida. Sepertiga pekerja di negara maju berada dalam sektor kreatif. Mereka, para kelas kreatif (creative class), sebut Richard Florida dalam bukunya “Cities and the Creative Class” (2005), menyumbangkan setengah pendapatan gaji dan upah di USA.

Mereka, yang dimasukkan dalam kelas kreatif terdiri atas kelas inti yang meliputi ilmuwan, insinyur atau engineer, professor di universitas, penyair dan novelis, artis, penghibur, desainer, arsitek, termasuk juga yang dianggap mempunyai nilai kepemimpinan dalam masyarakat modern (seperti penulis nonfiksi, editor, tokoh-tokoh budaya, kelompok peneliti (think tank), serta pembuat opini. Di luar kelas inti ini adalah para profesional kreatif yang bekerja di industri-padat-pengetahuan.

Orang-orang kreatif itu adalah penggerak di belakang pertumbuhan ekonomi (human capital theory). Merekalah, oleh Florida, yang mengembangkan “human capital” menjadi “creative capital”, selanjutnya disebut sebagai Creative Class atau Kelas Kreatif; kelas yang berfungsi untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang memiliki nilai.

Dibutuhkannya kondisi-kondisi tertentu bagi suatu tempat atau wilayah, quality of placeagar para kelas kreatif ini tertarik pada wilayah tersebut. Di era ekonomi kreatif (knowledge-based economy) ini, dengan tingginya mobilitas sumberdaya manusia dan teknologi, kemampuan suatu wilayah untuk menarik orang-orang kreatif untuk datang, bekerja, dan tinggal di tempatnya (quality of place) adalah faktor utama menciptakan keunggulan.

Dalam buku ini, kata kunci untuk memahami Kelas Kreatif, yang membangun kota kreatif, menghasilkan inovasi-inovasi, dan pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah konsep Florida tentang 3T atau Technology (fungsi inovasi), Talent (kelas kreatif), Tolerance (keterbukaan, inklusif, keseragaman).

Untuk memikat orang-orang kreatif, membangkitkan inovasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi, suatu tempat harus memiliki ketiga faktor di atas. Kota-kota seperti Baltimore, St. Louis dan Pittsburgh di Amerika adalah contoh kota yang gagal dalam pertumbuhan meskipun memiliki keunggulan teknologi tinggi serta lokasi universitas-universitas kelas dunia.

BACA JUGA  Editorial: Kebebasan Pers dan ‘Wise Journalism’

Florida menekankan bahwa hal penting untuk menarik kelas kreatif guna membangun keunggulan suatu kota adalah keterbukaan terhadap keragaman. Ini berbeda dengan pendekatan konvensional sebelumnya yang menekankan pada bagaimana menarik dan mendorong perusahaan, bukan para kelas kreatif, serta membangun kawasan atau gugus industri (industrial clusters). Keragaman (diversity) dan keterbukaan (openness), yang saling berkaitan erat, adalah komponen-komponen utama dari toleransi.

Tempat yang memiliki keunggulan dalam 3T tersebut, yakni teknologi, talenta, dan toleransi, yang dapat menarik masuk kelas kreatif, nantinya menjadi magnet kuat menarik masuk perusahaan atau industry untuk mengembangkan inovasi-inovasi. Suatu siklus yang saling-menguatkan dalam prosesnya (virtuous cycle) yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah kajian menegaskan hubungan keragaman, toleransi, dan tingkat keunggulan suatu kota. Pierre Desroshers mengungkapkan adanya hubungan kuat antara keragaman dengan kreativitas dan inovasi regional, sementara studi empiris dari Annaless Saxenian di Silicon Valley menunjukkan bahwa kurang-lebih seperempat dari pendiri perusahaan baru adalah latar kelahiran Cina atau India serta kira-kira sepertiga ilmuwan dan engineer di kawasan tersebut adalah kelahiran luar Amerika. Lebih lanjut Annaless berpandangan imigrasi berkaitan dengan industri high-tech.

Keterbukaan menurut Pascal Zachary dihubungkan langsung dengan keunggulan ekonomi di Amerika sebagai negara yang terbuka bagi orang-orang inovatif dan enerjik dari seluruh dunia.

Lebih jauh, budaya memiliki hubungan yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi. Manusia dengan potensi yang tidak-terbatas dapat dimunculkan, dilepaskan, difasilitasi dan dimobilisasi dalam suatu budaya yang terbuka (open culture); budaya yg tidak diskriminatif, tidak mengunkung manusia dalam kotak-kotak, memungkinkan warganya menjadi dirinya, dan menvalidasi keragaman keluarga dan identitas warganya. Dalam tingkatan lebih luas, misalnya negara, budaya terbuka adalah pemacu inovasi sosial, kewirausahaan dan pembangunan ekonomi. ** (Redaksi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *