
Dailymakassar.id—Makassar. Ada satu hal yang kerap luput dari perhatian setiap kali sebuah organisasi dilantik, sunyi di balik tepuk tangan. Padahal justru di sanalah makna bekerja paling jujur bersembunyi, dalam kesenyapan yang tak dirayakan.
Rabu itu, 28 Januari 2026, di sebuah ruang pertemuan di Soppeng, para pengurus Serikat Media Siber Indonesia resmi dilantik.
Spanduk terbentang rapi. Kata-kata mengalir formal. Sumpah dibacakan dengan suara yang tertib. Semua berlangsung sebagaimana mestinya.
Namun sesungguhnya, yang lebih penting bukanlah apa yang diucapkan hari itu, melainkan apa yang kelak diuji oleh waktu.
Pers, sejak lama, bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah sikap batin. Ia menuntut pilihan untuk berdiri di tengah, tidak terlalu dekat dengan kekuasaan hingga kehilangan daya kritis, dan tidak pula menjauh sampai terasing dari kenyataan. Di titik itulah pers sering merasa sepi.
Ketika Ketua SMSI Sulawesi Selatan berbicara tentang kemitraan antara pers dan pemerintah, satu hal terlintas di benak: kemitraan selalu rawan disalahartikan.
Ia bisa menjadi kerja sama yang sehat, tetapi juga bisa berubah menjadi kedekatan yang melunakkan jarak kritis. Di sinilah pers diuji, apakah ia masih mampu berkata tidak ketika banyak yang memilih diam.
Lalu mengalirlah istilah tua dari tanah Bugis: Siri’ na Pesse. Siri’ berarti harga diri. Pesse berarti empati.
Dua kata yang tampak sederhana, tetapi menuntut laku yang tidak sederhana. Siri’ meminta jurnalis menjaga kehormatan profesinya, menolak kebohongan meski menggiurkan.
Pesse mengingatkan bahwa di balik setiap berita, selalu ada manusia yang akan menanggung dampaknya.
Di dunia yang kini bergerak secepat algoritma, dua nilai itu terasa berjalan melawan arus. Sebab hari ini, yang cepat lebih sering dihargai dari yang benar. Yang viral lebih dicari dari yang jujur.
Ketika Ketua SMSI Soppeng mengatakan bahwa pers tak perlu menjadi yang paling keras, melainkan yang paling jernih, ia seakan mengingatkan sesuatu yang nyaris kita lupakan. Jurnalisme bukan lomba adu suara, melainkan latihan panjang tentang kejernihan berpikir.
Dan kejernihan, seperti kita tahu, lahir dari kesediaan untuk ragu. Ragu sebelum menulis. Ragu sebelum menghakimi. Ragu sebelum mengunggah. Di situlah martabat pers diuji.
Di negeri ini, pers kerap diminta menjadi banyak hal sekaligus: pengawas, penyampai pesan, penghibur, bahkan penenang.
Namun jarang yang bertanya, siapa yang menjaga pers itu sendiri?
Pelantikan SMSI di Soppeng mungkin hanyalah satu peristiwa kecil di antara banyak agenda organisasi.
Namun ia menyimpan harapan yang tidak kecil: bahwa masih ada ruang bagi jurnalisme yang berjalan pelan, yang tidak tergesa, yang memilih setia pada nurani ketimbang tepuk tangan.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mengingat siapa yang paling cepat memberitakan.
Ia hanya mengingat siapa yang tetap jujur ketika kebenaran terasa sunyi.
Dan di sanalah, pers seharusnya berdiri**






















Comment