
Daily Makassar, MAKASSAR. Di tengah menumpuknya sampah plastik rumah tangga di Kota Makassar, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Berdaur Indonesia (Berdaur.id) justru melihat peluang. Sampah yang selama ini dianggap tak bernilai mereka olah menjadi beragam aksesori cantik, mulai dari gelang, anting, kalung, hingga gantungan kunci dan plakat. Namun, semangat besar itu sempat terganjal satu masalah klasik: kapasitas produksi yang jauh tertinggal dari permintaan pasar.
Berdiri sejak 2019 di Jalan Mallengkeri Raya, Kecamatan Tamalate, Berdaur.id mengumpulkan limbah plastik jenis HDPE, PP, dan LDPE dari masyarakat dan komunitas sekitar, dengan volume yang cukup melimpah, sekitar 100 hingga 150 kilogram per bulan. Sayangnya, keterbatasan alat membuat proses pencacahan plastik menjadi bahan baku memakan waktu 3 sampai 4 jam hanya untuk 5 kilogram. Akibatnya, dari rata-rata permintaan pasar sebanyak 445 unit aksesori, Berdaur.id hanya mampu merealisasikan 155 unit, atau sekitar 34,83 persen saja.
Mesin Pencacah dan CNC Router Jadi Solusi
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Universitas Negeri Makassar yang diketuai Rahmat Riwayat Abadi, S.E., M.M., bersama anggota Annisa Paramaswary Aslam, S.E., M.S.M., dan Nursinah Amrullah, S.E., M.Si., turun langsung mendampingi Berdaur.id melalui program bertajuk “Optimalisasi Ekonomi Sirkular melalui Pendampingan Strategi Pemasaran Hijau Berbasis Model PESO pada Berdaur.id”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pada tahun anggaran 2026.
Dua unit alat produksi diserahkan dan didampingkan langsung penggunaannya kepada mitra: mesin pencacah limbah plastik berkapasitas 200 hingga 300 kilogram per jam, dan mesin Computer Numerical Control (CNC) Router untuk membentuk aksesori bernilai tambah dengan presisi tinggi. “Mesin pencacah memangkas waktu pengolahan bahan baku secara drastis, sementara mesin CNC membantu kami menghasilkan produk dengan bentuk yang lebih konsisten dan rapi,” ujar Maryam Malil, S.Pd., penanggung jawab Berdaur.id
Hasilnya cukup menggembirakan. Setelah pendampingan berjalan, kapasitas produksi Berdaur.id melonjak 40,55 poin persentase, dari baseline 34,83 persen menjadi sekitar 75,38 persen dari total permintaan pasar. Sampah plastik yang dulunya menumpuk kini berputar lebih cepat menjadi rangkaian produk siap jual, mendukung prinsip reduce dan recycle sekaligus menggerakkan ekonomi sirkular di tingkat komunitas.

Belajar Memasarkan Produk Hijau lewat Model PESO
Selain persoalan produksi, tim pengabdian juga menyoroti lemahnya strategi pemasaran Berdaur.id yang selama ini masih mengandalkan cara-cara konvensional, seperti penjualan tatap muka dan keikutsertaan pada pameran lokal. Informasi produk maupun pesan kampanye lingkungan pun belum tersampaikan secara konsisten kepada calon konsumen.
Untuk mengatasinya, tim memperkenalkan model pemasaran Paid, Earned, Shared, and Owned (PESO), yang mengintegrasikan berbagai saluran komunikasi, mulai dari media berbayar, publisitas dari pihak ketiga, interaksi di media sosial, hingga kanal milik sendiri seperti situs web. Melalui rangkaian sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan teknis pengelolaan media sosial, anggota Berdaur.id diajak memahami cara membangun narasi pemasaran hijau yang konsisten dan berkelanjutan.
Efektivitas pelatihan ini kemudian diuji secara ilmiah melalui pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang signifikan, dengan tingkat penyerapan materi mencapai 77,62 persen, melampaui target minimal 75 persen yang ditetapkan di awal program.
Dampak bagi Ekonomi Sirkular dan Lingkungan Kota Makassar
Program ini tidak hanya berdampak pada aspek bisnis Berdaur.id, tetapi juga mendukung agenda besar pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau yang menjadi bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Dengan kapasitas produksi yang meningkat dan pemasaran yang lebih terarah, limbah plastik yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini berubah menjadi sumber pendapatan sekaligus media edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya gaya hidup ramah lingkungan.
“Kami berharap pendampingan ini terus berlanjut, tidak hanya soal alat produksi, tapi juga bagaimana kami bisa konsisten mengelola media sosial dan menjangkau pasar yang lebih luas,” kata salah satu anggota kelompok pemuda Berdaur.id.

Ke depan, tim pengabdian UNM berencana melanjutkan pendampingan secara berkala hingga kapasitas produksi Berdaur.id mendekati target akhir sebesar 80 persen dari total permintaan pasar, sekaligus mendorong keberlanjutan kemitraan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, agar dampak sosial dan lingkungan dari program ini dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Ditulis oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Makassar: Rahmat Riwayat Abadi, S.E., M.M.; Annisa Paramaswary Aslam, S.E., M.S.M.; dan Nursinah Amrullah, S.E., M.Si.





















Comment