by

Pengamat: Pilkada Langsung Harus Dievaluasi

Pengamat Politik Kebangsaan, Arqam Azikin (foto: As)

Dailymakassar.id – Makassar – Menanggapi polemik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung yang telah terjadi selama ini, oleh pengamat dinilai tidak memberikan pendewasaan berpolitik kepada rakyat Indonesia.

Hal itu diutarakan pengamat Politik Kebangsaan, Arqam Azikin, saat ditemui setelah menghadiri diskusi publik yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Anti Korupsi (Formaksi) di Hitel Grand Asia. Rabu (12/2/2020), kemarin.

“Kalau saya ya, ini eksperimen pilkada langsung sudah hampir terjadi 20 tahun, kalau Sulsel itu dimulai dari tahun 2007, dan sekarang masuk episode 4 pilkada, tapi kalau orang berpikir tentang demokrasi maju, tidak, pendewasaan, malah orang berkelahi,” kata Arqam.

Menurut Arqam, elemen politik ini sudah dicek berkali-kali, dan dirinya sudah melihat eksperimen politik ini terjadi dimana-mana dan bukan hanya di Sulawesi Selatan (Sulsel), Ia menilai jika Pilkada langsung tidak cocok di Indonesia.

“Itu kemarin pilgub, pilkada kabupaten/kota di provinsi di teman kita yang di Jawa, Kalimantan kan kita semua dapat, potensi konflik, rusuh, berkelahi hanya berbeda pilihan,” jelas Arqam.

“Jadi menurut saya, pilkada jenis ini harus dievaluasi, mungkin tidak cocok dengan karakter kita, inikan pemilihan model Barat (Amerika), ini tidak bisa diambil contoh, karena disana (Amerika) cuma 2 partai,” tambah Arqam.

Lebih lanjut, Arqam menegaskan, pilkada langsung boleh dijalanjutkan, namun ia mengisyarakatkan agara Organisasi Masyarakat (Ormas) yang berumur 20 tahun bisa sodorkan kandidat,

“Dan ataukah kita sepakat, Partai Politik (Parpol) di Indonesia hanya ada 2 seperti di Amerika, saya rasa tidak, karena politisi kita rata-rata syawat politiknya terlalu tinggi, mau berkuasa tapi menghalalkan segala cara, inikan bahaya dalam pendewasaan berpolitik dan warga negara,” pungkas Arqam. (As)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *