(Opini) Teknologi Penanganan Pasca Panen Jagung bagi Kelompok Tani di Desa Tonasa Kecamatan Sanborone, Takalar

Foto: Istimewa

Oleh:
Dr. Ir. Suraedah Alimuddin, MP
Dr. Ir. St. Sabahannur, MP

dailymakassar.id – Jagung merupakan produk pertanian yang mudah rusak, untuk itu perlu diterapkan teknologi pasca panen yang tepat agar komoditi tersebut tidak kehilangan  hasil yang tinggi dan dapat memenuhi persyaratan mutu sesuai dengan permintaan sektor industri dan memenuhi persyaratan kualitatif berdasarkan Standar Mutu Jagung menurut SNI 3920:2013. Kesalahan dalam penanganan panen dan pasca panen jagung dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil berkisar antara 15-20% sehingga perlu mendapat prioritas dalam proses produksi usahatani. 

Kehilangan hasil jagung pada pasca panen dapat berupa kehilangan kuantitatif (loses) dan kehilangan kualitatif atau penurunan mutu biji akibat butir rusak, butir berkecambah, atau biji keriput selama proses pengeringan, pemipilan, pengangkutan atau penyimpanan.

Tahap-tahap dalam penanganan pasca panen adalah panen, pengeringan tongkol, pemipilan tongkol, pengeringan biji pipilan, pengemasan dan penyimpanan.

Berdasarkan hasil peninjauan di lokasi pengabdian, yaitu di Desa Tonasa Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar, tim pengabdi berpendapat bahwa masih banyak petani jagung belum memahami dengan baik bahwa penanganan pasca panen yang tidak benar akan menurunkan mutu dan meningkatkan kehilangan hasil yang berdampak pada harga jagung yang lebih rendah.  

Oleh karena itu, hasil panen jagung petani di daerah tersebut sebagian besar belum memenuhi persyaratan mutu jagung berdasarkan Standar Mutu Jagung SNI 3920:2013 terutama pada aspek kadar air biji yang nilainya melebihi nilai standar mutu dan persentase butir rusak dan pecah juga masih tinggi.  

Persoalan kadar air biji pada jagung dalam proses penanganan pasca panen merupakan faktor utama yang harus diperhatikan karena akan berdampak buruk pada beberapa parameter mutu biji selama penyimpanan seperti serangan Aflatoksin yang beracun dan tingginya persentase biji pecah.

Hasil penelitian Adiputra 2020 di Kabupaten Takalar menunjukkan bahwa teknologi penanganan pasca panen perlakuan petani menghasilkan kadar air jagung 16,3% bb, butir rusak 0,8 %,butir pecah 3,2%, kadar kotoran 0,3% artinya bahwa kualitas biji pipilan petani di daerah tersebut masih berada pada kategori mutu III untuk parameter butir pecah dan mutu IV pada kadar air sehingga kualitas jagung pipilan dari petani di Kabupaten Takalar masih perlu ditingkatkan.

Dengan demikian Tim pengabdi dari Fakultas pertanian UMI memberikan sumbangsih kepada kelompok Tani Lebbae 1 yang pada umumnya adalah petni jagung di Desa Tonasa melalui  kegiatan sosialisasi dan penyuluhan tentang pentingnya pemahaman panen dan penanganan pasca panen bagi petani dalam rangka mendapatkan hasil panen biji jagung yang berkualitas dan memenuhi standar mutu jagung berdasarkan SNI untuk medapatkan harga jual yang lebih tinggi. 

Kegiatan ini dilaksanakan dirangkaikan dengan demonstrasi plot, pendampingan, monitoring dan evaluasi.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kelompok tani lebbae 1 telah memahami dengan baik mengenai penanganan pasca panen jagung dan telah mengaplikasikannya dilapangan sehingga peningkatan kualitas dan penekanan kehilangan hasil telah dicapai. 

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat khususnya pada kelompok tani jagung Lebbae 1 direspon baik oleh lelompok tani mitra, mereka dengan penuh semangat dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. (*)

Comment