Sedangkan untuk proyek monev DAK Irigasi, Harun mengatakan beberapa proyek yang sudah mulai berjalan. Di antaranya RJIT Tanah Dangkal terdapat bangunan bak penampungan air dengan panel surya sebagai sumber tenaganya dengan pompa yang dapat bekerja sepanjang hari selama matahari menyinari.
“Sehingga mampu mengairi areal pertanian seluas lebih dari 3.000 meter persegi dan yang terus berproduksi sepanjang tahun,” ujarnya.
Menurut Harun, beberapa proyek masuk fase pencairan tahap pertama. Namun masih ada beberapa kendala, di antaranya pada proyek Tanabangka, Bajeng Barat, karena sudah masuk musim kemarau, maka tidak ada air yang mengairi areal persawahan.
“Untuk menghadapi kekeringan akibat musim kemarau petani menggunakan pompa irigasi air tanah dangkal hasil swadaya petani. Karakteristik wilayah pertanian Gowa yang mengandalkan air hujan sebagai pengairan utama maka dibutuhkan embung atau long storage sebagai penyimpan air dan dapat digunakan pada musim kemarau,” jelasnya.
Pada proyek dam parit Benteng Somba Opu, pembangunan dam parit dibatalkan karena jaringan irigasi sekunder yang menyalurkan ke jaringan irigasi tersier tidak mengaliri air sepanjang tahun. Maka, menurut Harun, pembangunan dam parit tidak dapat dimanfaatkan pada musim kemarau.
Lebih lanjut, pada proyek RJIT Bonto Kassi, Galesong Selatan, Takalar, sawah petani mengalami kekeringan dan hanya mengandalkan irigasi pompa air dangkal hasil swadaya kelompok tani. Harun menyebutkan hasil penelusuran tim didapatkan informasi bahwa tersumbatnya saluran tersier ini akibat adanya timbunan material bekas tambang galian C di Desa Sawakong yang menutup saluran irigasi sekunder.
Sehingga air dari di Bisua tidak dapat mengalir ke irigasi tersier. Jalur irigasi sekunder tersebut dijadikan jalan untuk dilalui alat berat penggali tanah. Dan setelah melakukan penggalian tidak dikembalikan/dibersihkan saluran irigasi yang tertimbun material,” katanya.





















