“Tidak, Pak! Tidak!,” tegas Usman dengan lantang, sembari mencegah kami keluar dari ruang UGD.
Tak sendirian, Usman bersama seorang temannya beralasan meminta menghapus sebuah gambar dan video pendek yang sudah kami dokumentasi karena kami belum mengantongi izin.
Mendapatkan tindakan intimidasi seperti itu, sempat terjadi perdebatan panjang antara kami dan satpam rumah sakit.
Salah seorang pria, yang kemudian kami ketahui bernama Andi Hardes, salah satu keluarga pasien yang sementara dalam perawatan di UGD, mencoba menengahi perdebatan kami.
“Saya orang lain, dia dari media makanya dia mau foto. Saya ingatkan ki, kita itu dapat masalah kalau kita paksa dia hapus,” Andi Hardes mencoba mengingatkan pihak keamanan.
Selama kurang lebih 15 menit terjadi perdebatan di antara kami dan pihak keamanan, berbagai bentuk intimidasi kami dapatkan. Mulai dari berkali-kali meminta kami memasuki sebuah ruangan, hingga meminta identitas pribadi berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) kami.
Kami menolak permintaan memasuki ruangan untuk menghindari tindakan intimidatif lain yang mungkin saja bisa terjadi. Kami juga menolak memberikan identitas pribadi.
“Kalau memang bapak tidak mau, tolong identitasnya bapak, KTP ta saya minta,” ujar Usman.
Kami menolak memberikan KTP dan tetap memperlihat identitas berupa kartu pers.
“Bukan itu, KTP ta yang saya minta,” Usman kembali menekankan.
Pihak keamanan tetap tidak mengijinkan kami meninggalkan ruang UGD RS Ibnu Sina sebelum kami menghapus dokumentasi.






















Comment