
Dailymakassar.com – Makassar. Udara pagi di Hotel Sultan Alauddin, Makassar, terasa berbeda. Bukan karena aroma kopi atau kehangatan sinar matahari yang menembus jendela, melainkan semangat membara dari puluhan pemuda lintas iman yang hadir dalam Dialog Kerukunan Umat Beragama.
Acara ini digagas oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, didukung berbagai elemen organisasi masyarakat termasuk PC Fatayat NU Kota Makassar.
Acara dibuka dengan doa lintas agama, diikuti lantunan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang menggema penuh khidmat. Momen tersebut menjadi simbol kuat persatuan dalam keberagaman.
“Ini bukan sekadar ruang diskusi, tapi tempat bertemunya semangat untuk merajut masa depan yang lebih toleran,” ujar Ketua Panitia, Gishar Hamka saat memberi sambutan.
Dialog yang berlangsung hangat dan penuh semangat, membahas isu-isu aktual seputar intoleransi, radikalisme, dan tantangan kerukunan di era digital dikupas dari berbagai perspektif.
Andi Hadi Ibrahim Baso, anggota DPRD Kota Makassar, menyampaikan fakta-fakta mengejutkan bahwa kelompok usia 17–24 tahun, menjadi sasaran utama radikalisasi terkhususnya kaum perempuan.
“Ini bukan isu jauh di luar sana. Ia nyata, dan kita perlu memahami bagaimana jaringan ini bekerja agar bisa menghentikannya dari akarnya,” ungkapnya.
Di sisi lain, pesan-pesan damai dan refleksi spiritual disampaikan oleh Dr. H. Usman Sofian. Dengan penuh semangat, dia mengingatkan peserta bahwa agama sejatinya harus menjadi jalan untuk memanusiakan manusia.
“Menghormati sesama adalah bentuk menghormati Tuhan,” ujarnya, mengutip pemikiran Gus Dur dan Gus Baha, dua tokoh pluralisme Indonesia.
Tak ketinggalan, Fadly Wellang dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar menyoroti peran digital dalam membentuk opini publik.
“Kalau hoaks dan ujaran kebencian bisa viral, kenapa toleransi tidak? Saatnya kita mengambil alih ruang digital dengan narasi positif”. Tantangnya yang disambut antusias para peserta.
Puncak acara ditandai dengan pemaparan inspiratif dari Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Arifuddin Ahmad. Dengan penuh semangat, dirinya memperkenalkan konsep “TriASI” sebagai jurus jitu melawan intoleransi: Literasi, Interaksi, dan Rekreasi.






















Comment