FKUB Kota Makassar Kenalkan Konsep ‘TriASI’ Jurus Jitu Lawan Intoleransi

“Literasi berarti memahami agama dan perbedaan dengan benar. Interaksi adalah membangun dialog antarumat. Dan Rekreasi? Itu penting untuk membangun koneksi emosional dalam suasana yang menyenangkan. Karena provokasi lebih berbahaya dari zina—ia bisa menghancurkan perdamaian banyak orang,” jelas Prof. Arifuddin, disambut tepuk tangan peserta.

Konsep “Makassar Sikatutui” (saling mengasihi) dijadikan payung nilai dari formula TriASI, menjadikan pendekatan ini bukan hanya relevan secara lokal, tapi juga aplikatif di seluruh Indonesia.

Sesi tanya jawab tidak kalah seru. Aminah kader Fatayat NU Makassar, melontarkan pertanyaan tajam: “Bagaimana kita bisa menghadirkan toleransi di tingkat akar rumput, khususnya di daerah dengan potensi konflik tinggi?” Pertanyaan ini membuka diskusi tentang strategi konkret yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.

Dari dialog dan musyawarah itu, lahir tiga komitmen strategis bersama:

Pendekatan Kultural: Menjadikan budaya lokal sebagai alat pemersatu dan perekat sosial. Kesenian, bahasa, dan adat istiadat dimanfaatkan untuk memperkuat harmoni.

Pemuda sebagai Garda Terdepan: Mendorong anak muda untuk menjadi agen perubahan, tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

Kuasai Dunia Digital: Membangun literasi digital dan memproduksi konten damai yang masif dan berkelanjutan.

Menjelang akhir acara, aura optimisme terpancar dari wajah para peserta. Meski dialog telah selesai, api semangat yang menyala sejak pagi belum juga padam. Banyak yang berharap kegiatan ini menjadi awal dari gerakan kolaboratif jangka panjang.

“Jangan berhenti di sini. Kita butuh ruang-ruang seperti ini hadir di sekolah, kampus, komunitas, bahkan media sosial. Ini harus berlanjut!” ungkap salah satu peserta sebelum meninggalkan ruangan.

Makassar hari itu tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah acara. Ia menjadi saksi lahirnya harapan baru—bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tapi bisa menjadi gerakan nyata yang dipimpin oleh anak muda. Dan dari kota ini, nyala api toleransi itu mulai menyebar, perlahan namun pasti, ke seluruh penjuru negeri**(Takbir)

Comment