
Dailymakassar.id—Makassar. Di tengah cahaya malam Kampung Popsa yang menghadap pesisir Kota Makassar, jajaran pengurus Dewan Kesenian Makassar berkumpul dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat, Rabu malam (13/5/2026).
Pertemuan itu terasa seperti ruang gagasan tentang seni, kota, dan masa depan kesenian Makassar yang saling dipertukarkan.
Ketua Umum DKM Makassar, M. Juniar Arge, hadir langsung memimpin jalannya pertemuan.
Di hadapan para pengurus, dirinya menyampaikan bila Dewan Kesenian Makassar tengah bersiap memasuki fase baru melalui pelantikan pengurus periode 2025–2030 yang direncanakan berlangsung pada Juni mendatang.
Namun lebih dari sekadar agenda seremonial, pelantikan itu diharapkan menjadi penanda lahirnya energi baru bagi ekosistem seni di Makassar.
“Malam ini kita bertemu dalam rangka membahas beberapa agenda penting, termasuk persiapan pelantikan pengurus DKM Makassar Periode 2025–2030 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada bulan Juni,” ujar mantan Anggota DPRD Makassar itu.
Dalam suasana diskusi yang cair, Juniar Arge juga menyampaikan perihal surat keputusan kepengurusan DKM Makassar telah resmi ditandatangani oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin.
Kabar tersebut menjadi penanda penting bila keberadaan Dewan Kesenian Makassar mendapat legitimasi sekaligus harapan untuk kembali aktif sebagai ruang kebudayaan kota.
“Alhamdulillah, SK Pengurus DKM Periode 2025–2030 telah ditandatangani oleh Wali Kota Makassar,” katanya.
Agenda pembahasan berlanjut pada pembentukan panitia pelantikan. Anggraini Herman didapuk sebagai ketua panitia, didampingi Sinta Masri sebagai wakil ketua, Rahmat Sini Dg. Romo sebagai sekretaris, dan Fimey Bachtiar sebagai bendahara.
Di balik pembentukan kepanitiaan tersebut, terselip harapan agar pelantikan tidak hanya berlangsung formal, tetapi juga mampu merepresentasikan wajah kebudayaan Makassar yang hidup dan berakar.
Karena itu, Juniar Arge secara khusus mengingatkan agar konsep pelantikan nantinya memadukan unsur Makassar dan seni secara harmonis.
Baginya, identitas lokal tidak boleh hadir sekadar sebagai ornamen, tetapi menjadi ruh dalam keseluruhan acara.
Gagasan itu terasa relevan di tengah perubahan wajah kota yang bergerak cepat. Seni dan budaya, dalam konteks tersebut, menjadi cara untuk menjaga ingatan kolektif Makassar agar tidak tercerabut dari akar tradisinya.
Di sela pertemuan, turut mengemuka harapan dari pihak Balai Suaka Benteng Rotterdam agar Galeri DKM kembali difungsikan sebagai ruang aktivitas seni dan kebudayaan.
Wacana ini disambut sebagai peluang untuk menghidupkan kembali ruang-ruang ekspresi yang selama ini menjadi bagian penting perjalanan seni di Makassar.
Menjelang akhir pertemuan, Juniar Arge yang juga sebagai politisi dari partai Golkar menyampaikan rencana pelaksanaan rapat kerja DKM di Malino, Kabupaten Gowa, usai pelantikan digelar.
Kawasan Kota Bunga Malino dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah suasana yang lebih tenang, DKM ingin merumuskan arah baru kebudayaan dengan lebih reflektif dan mendalam.
“Insya Allah setelah acara pelantikan, kita akan adakan rapat kerja DKM di Malino, Kabupaten Gowa,” tutupnya.
Malam itu, percakapan di Kampung Popsa seakan menegaskan satu hal bahwa bagaimana sebuah kota menenun tradisi, merawat kreasi **(RM)






















Comment