
MAKASSAR – Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel Sinergi dengan Dinas Perdagangan Kota Makassar dan Dekranasda Provinsi Sulsel dalam rangka pendampingan Pengembangan SDM Industri Kriya Bambu TA.2022 yang dilaksanakan di Hotel Whiz Prime, Rabu, 26 Oktober 2022. Acara ini digelar dari tanggal 26 hingga 31 Oktober 2022.
Sekretaris Dekranasda Sulsel Adelleidah mengatakan, bahwa memang dari awal Dekranasda sangat mensupport bagaimana daya saingnya pengrajin-pengrajin dengan membuat MoU dari sebelas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) termasuk adalah Dinas Perindustrian.
“Dan saat ini, untuk pendampingan ini khusus dengan berbahan baku dari bambu,” ucap Adelleidah saat membacakan sambutan dari ketua Dekranasda Sulsel Naoemi Octarina.
Diakuinya jika memang Sulsel kalah saing dengan pengrajin dari daerah Jawa. Untuk itu, dengan sinergitas antara Dekranasda Sulsel dengan Dinas Perindustrian Sulsel hari ini, mendatangkan instruktur pengrajin dari Jawa untuk membantu pengrajin-pengrajin yang ada di Sulsel.
Sehingga nantinya menjadi pemantik semangat bagi daerah lain di Sulsel untuk terus mengembangkan produknya. Dan hari ini, Dekranasda hadir mewadahi semua itu.
“Kita juga bersyukur dimana, produk Songkok Recca yang berasal dari kabupaten Bone ditetapkan sebagai penerima World Craft Council (WCC) Award of Excellence For Handicraft of Asia Pasific Region 2022,” ujar Adelleidah yang juga Sekretaris Dinas Perindustrian Sulsel.
Untuk itu, kata Adelleidah, Pemprov sangat mendukung dan mengapresiasi berbagai upaya untuk menjadikan Sulsel sebagai ramah investasi .
“Saya berharap, Sulsel tetap menjadi primadona bagi investor, karena kita memiliki budaya Sipakalebbi (Saling Memuliakan), Sipakainga (Saling Mengingatkan), Sipappaccei (Saling Tolong menolong), Sipakatau (Saling Menghormati) yang menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Sulsel,” harapnya.
Di tempat yang sama Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Sulsel Ahmadi Akil mengatakan, bahwa bagaimana kegiatan pendampingan ini untuk bagaimana membuat kerajinan bambu dengan lima turunan.
Dimana, pertama bisa menghasilkan teko, cangkir, mug, tumbler. Jadi, pendampingan ini tidak hanya menghasilkan satu produk. Tapi, satu produk dengan beberapa turunannya. Jadi, mereka bisa menghasilkan Miranti Saji.
“Jadi, kami khususkan untuk Makassar dan Maros untuk membuat kerajinan bambu Miranti Saji dengan lima turunan,” ucap Ahmadi Akil.
Ketika berbicara Kriya bambu, kata Ahmadi Akil, semua provinsi sudah membuat potensi itu. “Sekarang kita ingin memiliki nilai lebih dari provinsi lain dengan tujuan kedua melakukan cetak laser yang tidak akan bisa hilang,” katanya.
“Dan ini belum dimiliki oleh pelaku IKM. Ketika mereka ingin mencetak mereka pergi ke percetakan. Dan hari ini juga, kita mengajarkan kepada peserta supaya mereka bisa melakukan sendiri. Jadi, dengan lima produk yang tadi, mereka bisa mencetak mulai dari foto, logo, gambar orang, merk, dan lainnya,” ungkapnya.
Sehingga, dengan kegiatan ini bisa mencapai tujuan daya saing produk dan bisa memiliki nilai tambah di dalamnya.
“Jadi, membina pengrajin dalam hal ini IKM itu, harus berkolaborasi dengan pemerintah Kabupaten/kota karena orang-orang yang di rekrut ini adalah semua dari kabupaten/kota,” tandasnya.
Hadir sebagai narasumber Dinas Perdagangan Kota Makassar Arlin Ariesta. [cd]






















Comment