
MAKASSAR, – dailymakassar.id – Polemik pergantian sepihak pembaca doa saat upacara perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus Republik Indonesia (RI) di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel menuai sorotan.
Pasalnya, pada detik-detik jelang upacara pengibaran bendera, pembaca doa yang diundang secara resmi (Kementrian Agama Provinsi Sulsel-red) mendadak diganti.
Menanggapi itu, Ketua Umum Setya Kita Pancasila Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Fauzi Mahmuda menyampaikan bahwa ini bagian dari perilaku tidak terpuji dan ketidakprofesionalan sebagai aparat pemerintahan setingkat provinsi,
“Ini kelas amatiran. Ini bukan miskomunikasi, tapi kesengajaan. Terlebih pejabat yang ditunjuk mewakili Kepala Kanwil sudah mengkonfirmasi kepada pihak panitia perihal kehadirannya” ujarnya, Sabtu (19/8/2023)
“Menurut saya, tidak cukup dengan menyatakan misskomunikasi, dan kami Setya Kita Pancasila Provinsi Sulawesi Selatan menganggap tidak hina jika Gubernur Sulawesi Selatan yang langsung menyampaikan permohonan maaf, sebagai tanggung jawab moral pimpinan terhadap sebuah kesalahan yang sangat tidak bisa ditolerir yang dilakukan oleh bawahan, Ini bukan kesalahan personal tapi kesalahan dan pelecehan institusi besar Kementerian Agama”, lanjutnya.
“Apabila Bapak Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan tidak meminta maaf maka jangan menyalahkan jika masyarakat menilai Gubernur mengetahui pergantian ini dari awal, bukan tiba-tiba saat jelang upacara dilaksanakan”, tandas Ali.
Dia menegaskan sebaiknya, Gubernur Sulsel meminta maaf secara langsung, agar polemik ini tidak berkepanjangan dengan eskalasi yang lebih besar.
Sebelumnya, Kepala Biro Kesra Sulsel, Erwin Sodding mengakui ada kesalahan komunikasi atau miskomunikasi antara panitia penyelenggara dengan pihak Kanwil Kemenag Sulsel.
Memang sebagaimana lazimnya, dalam acara resmi tingkat Provinsi Sulsel, perwakilan Kanwil Kemenag Sulsel diamanahkan sebagai pembaca doa.
Namun saat upacara, Kepala Kantor Kemenag Sulsel Khaeroni berhalangan hadir. Dia kemudian diwakili Kepala Bagian Tata Usaha Ali Yafid sebagai pembaca doa.
Hanya saja, saat upacara akan dimulai panitia melakukan pergantian pembaca doa.
“Kami mewakili panitia meminta maaf kepada Bapak Kanwil Kemenag Sulsel beserta jajarannya. Kami akui ada kesalahan dan miskomunikasi. Kami tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, terlebih pihak Kemenag Provinsi Sulsel sudah sangat berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam modernisasi beragama dan tentu selalu kami dukung,” kata Erwin Sodding. (tbr)






















Comment