Untuk penanganan stunting tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menetapkan anggaran sebesar Rp. 4.826.264.638,- Sedangkan pada tahun 2021, dinaikkan menjadi Rp.42.147.927.000,-
Dailymakassar.id – MAKASSAR. Masalah stunting di Indonesia adalah ancaman serius yang memerlukan penanganan yang tepat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019, prevelensi stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada rumah tangga 1000 HPK. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga masa setelah lahir, akan tetapi nanti tampak stunting setelah bayi berusia 2 tahun.
Persoalan stunting di Kepulauan Selayar, juga menjadi perhatian khusus seluruh stakeholder di sana. Hal itu terungkap dalam acara “Rakor Deseminasi dan Publikasi Data Stunting Kabupaten Kepulauan Selayar” yang berlangsung di Hotel Rayhan Square.
Acara ini berlangsung selama dua hari pada tanggal 20 hingga 21 Desember lalu dan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Selayar, dr. H. Husaini, M.Kes.
Untuk penanganan stunting tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menetapkan anggaran sebesar Rp. 4.826.264.638,- Sedangkan pada tahun 2021, dinaikkan menjadi Rp.42.147.927.000,-
Dalam Rakor tersebut, ditunjukkan grafik dan peta sebaran balita stunting di tingkat Kabupaten Kepulauan Selayar. Berdasarkan grafik dan peta tersebut, terjadi penurunan prevalensi stunting di Kepulauan selayar dari 19,59 % tahun 2020 menjadi 17,49 % tahun 2021.
Penurunan prevalensi stunting dipengaruhi oleh membaiknya konvergensi lintas sektor yang terlibat dalam penanganan stunting. Hal yang paling menonjol dari membaiknya intervensi gizi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas PUPR, Dinas Pendidikan, Dinas P3AP2KB, dan Dinas Sosial.
Boleh dikata, Pemkab Kepulauan Selayar berhasil menurunkan tingkat prevalensi stunting melalui pendekatan anggaran, diikuti oleh kerja sama apik seluruh stakeholder dinas di sana**(RM)























Comment