
Mereka yang telah menjadi bagian dari sejarah perubahan arah kebijakan politik nasional tersebut, dari berbagai kampus yang ada di kota Makassar. Awal 2022, tepatnya pada penanggalan almanak 11 Januari, mengkoneksikan diri dalam Barisan Rakyat Indonesia Kawal Demokrasi (Barikade98)
Dailymakassar.id – MAKASSAR. Tanggal 21 Mei 1998, rezim berkuasa pada saat itu tumbang. Sebuah sejarah telah tercatat dalam bingkai NKRI. 24 tahun yang lalu, menjadi diferensiasi, dari akumulasi perlawanan rakyat terhadap rezim Orde Baru.
Dari pulau Sulawesi, kota Makassar sebagai sentrum Indonesia Timur hingga ke Manado, juga menjadi salah satu barometer pergerakan nasional. Dengan beberapa aktivis parlemen jalanan yang kadang mendapatkan perlakuan represif.
Saat moncong senapan mengancam setiap waktu, dengan muntahan peluru yang siap menembus kulit. Mereka tidak peduli, meski jiwa raga sebagai taruhannya.
24 tahun lalu, warna kulit yang kadang berubah oleh sengatan panas matahari dan melangkah di antara desingan peluru. Namun, dalam benaknya, tidak ada langkah mundur untuk sebuah perjuangan.
Mereka yang telah menjadi bagian dari sejarah perubahan arah kebijakan politik nasional tersebut, dari berbagai kampus yang ada di kota Makassar. Awal 2022, tepatnya pada penanggalan almanak 11 Januari, mengkoneksikan diri dalam Barisan Rakyat Indonesia Kawal Demokrasi (Barikade98).
Sejumlah aktifis pergerakan tahun 1998 di Sulawesi Selatan, berkumpul sambil berdiskusi pada sebuah meja yang tersusun memanjang.
Entah karena jiwa kebersamaan masa reformasi, membuat mereka melebur satu sama lain. Diskusi sore di CCR Jalan Toddoppuli mengalir dengan suasana kekeluargaan, Rabu (12/01).
Ketua DPW Barikade98 Sulsel, Iwan Salassa merupakan salah satu aktivis di kota Manado saat negeri ini bergolak tahun 1998. Iwan memulai memimpin rapat dengan memperkenalkan beberapa pengurus yang ada.
Pada prinsipnya para aktor pergerakan bersepakat untuk membentuk jejaring para demonstran. Entah jika mereka merindukan diskusi ala generasi Baby Boomer yang ketika mereka terlahir menjadi aktivis, belum ada handphone, apalagi Whatsapp.
Bulan Januari 2022 ini akan menggelar kegiatan pelantikan pengurus. Dengan menghadirkan sejumlah menteri dalam pemerintahan RI.
Kerangka kegiatannya lebih profesional. Seperti Kontras tahun 1998, dengan pergerakan sebagai senjata membangun isu dan perlawanan.
“Era sekarang ini, sebagaimana ruang komunikasi telah terbuka, sehingga kami akan berupaya menghadirkan beberapa menteri dan pejabat di negara ini,” urai Iwan Salassa.
Sore itu, dilanjutkan dengan pemilihan panitia pelaksana kegiatan. Bertindak sebagai Ketua Panitia, Agus, mempersiapkan acara yang akan menghadirkan Gubernur Sulsel.
Setelah rapat berlangsung, Agus mengurai bahwa, “Mengkombinasikan dua orang dalam kegiatan yang bertajuk diskusi, antara menteri dengan Gubernur Sulsel. Dan Saat ini, sedang menjalin komunikasi (Plt Gubernur)”.
Kepanitiaan ini lengkap karena selain Organizing Committee (OC) juga terdapat Steering Committee (SC). Skema acara sedang diatur dan dipersipkan secara matang oleh SC.
Diprediksi hadir massa hingga 2000-an orang. Sementara protokol kesehatan tidak memungkinkan. Untuk itu, SC mendesain acara demi menghindari kekecewaan para aktivis yang ada di Bumi Celebes ini**(Tbr)






















Comment