Hasrullah: Jangan Menzalimi Demokrasi

Hasrullah (Foto: Istimewa)

MAKASSAR — Pakar komunikasi politik dan akademisi Univesitas Hasanuddin (Unhas) Hasrullah menilai perkembangan politik jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel cukup mencemaskan. Pasalnya, konstalasi dinamika politik akhir-akhir ini mengindikasikan adanya kecenderungan tidak sehat dalam berkompetisi.

“Ada yang tidak beres. Indikasinya jelas, mulai dari munculnya isu kotak kosong serta dibarengi penggiringan opini yang menyesatkan bahwa kotak kosong itu biasa saja dalam iklim demokrasi.

“Padahal, dalam konteks pemilihan pemimpin, kotak kosong itu adalah tanda adanya darurat politik. Dipastikan daerah pemilihan yang mengalami itu sudah terjadi persekongkolan politik untuk mengibiri hak konstitusi warga negara untuk dipilih dan memilih calon pemimpin mereka,” kata Hasrullah, Rabu (24/7/2024).

Menurut Hasrullah, demokrasi itu adalah perayaan kebebasan warga untuk memilih dan dipilih. Ada ruang di mana warga bisa dengan independen dan rasional menentukan siapa yang menjadi nahkoda mereka dalam periode lima tahun ke depan.

“Kalau direkayasa dan didesain untuk membatasi pilihan rakyat, itu sama sekali merupakan anomali politik. Seakan-akan kita tak punya figur-figur pemimpin alternatif untuk kita sandingkan dan kompetisikan berdasar rekam jejak, kapasitas, kapabilitas dan leaderahip dengan yang lain,” tandasnya.

Hasrullah menambahkan bahwa seorang pemimpin yang kapabel dan teruji itu pastilah lahir dari badai pertarungan yang dahsyat.

“Nah kalau pemimpin itu lahir dari hasil kongkalikong, dikarbit dan hanya mengandalkan modal dana yang besar, bisa dipastikan dia hanya membawa kepentingan lingkar kecilnya saja. Rakyat atau warga hanya dijadikan batu pengungkit atau tuas untuk mencapai tujuan kekuasaannya. Kasarnya, dia hanyalah boneka yang diremote control,” katanya.

Karenanya, Hasrullah mengimbau pada petinggi parpol untuk mendengar relung suara mayoritas masyarakat Sulsel. Karena, menurutnya, inilah ujian bagi partai untuk tetap mendapat kepercayaan rakyat.

“Jangan biarkan permainan politik amoral seperti ini hadir di Sulsel. Biarkan masyarakat Sulsel punya beberapa pilihan untuk dipilih sebagai calon pemimpin. Siapa pun yang rakyat pilih nanti, itu hak mereka dan harus kita hargai. Bukan dengan menutup jalan hadirnya pemimpin lain,” imbaunya. (**)