
PEMILIHAN Ketua RT serentak di kota Makassar baru saja selesai pada Rabu lalu (3/12/2025). Kemudian dilanjutkan pemilihan Ketua RW pada Ahad besok (8/12/2025).
Pemilihan Ketua RT/RW sering disebut sebagai pesta demokrasi paling dekat dengan warga. Ironisnya, di tempat yang bernama “Rukun Tetangga” atau “Rukun Warga” inilah perbedaan pilihan kadang memunculkan ketegangan kecil.
Lingkungan yang hangat bisa terasa kaku. Warga yang biasanya saling menyapa berubah menahan jarak. Keadaan itu sebenarnya bukan karena mereka tidak rukun antara tetangga atau warga. Tetapi karena proses politik sedang berlangsung. Sekecil apa pun skalanya, akan selalu membawa impak.
Tidak perlu khawatir, jika terjadi suasana panas dalam pemilihan Ketua RT/RW. Karena itu adalah bagian dari dinamika pemilihan. Justru di sinilah perlunya dikelola secara baik, agar kedewasaan warga semakin meningkat.
Lalu, siapa saja yang bertanggung jawab mengelola suasana panas dalam pemilihan itu? Tanggung jawabnya bukan berada pada satu pihak saja, semua harus terlibat.
Calon Ketua RT/RW memegang peran paling penting. Cara mereka merangkul warga, menenangkan pendukung, atau bersikap dewasa saat menghadapi kritik akan menular ke lingkungan.
Calon yang tenang menciptakan pendukung yang tenang. Sebaliknya, calon yang mudah tersinggung sering memicu ketegangan yang tidak perlu.

Tokoh masyarakat, sesepuh lorong, dan orang-orang yang dihormati di lingkungan juga menjadi penyangga penting. Di banyak tempat, satu kalimat menyejukkan dari mereka bisa meredakan ketegangan. Mereka adalah suara tengah yang mengingatkan bahwa menang adalah amanah, dan kalah bukan akhir dari segalanya.
Pihak Kelurahan, Kecamatan, dan panitia pemilihan bertugas memastikan proses berjalan transparan, tertib, dan adil. Ketika warga melihat proses yang bersih, kecurigaan mereda, dan kompetisi tetap sehat. Kejelasan prosedur seringkali menjadi obat bagi potensi konflik.
Dan tentu saja, warga itu sendiri memegang peran tak kalah penting. Mereka adalah penentu suasana lingkungan. Dengan menahan emosi, menjaga tutur kata, dan ingat bahwa setelah pemilihan mereka akan tetap hidup berdampingan, warga dapat menjaga lingkungan tetap menjadi ruang yang ramah dan hangat.
Pemilihan Ketua RT/RW hanyalah satu momen singkat, sementara hidup bertetangga adalah kisah panjang yang dijalani setiap hari. Perbedaan pilihan seharusnya tidak membuat masyarakat saling menjauh, karena kekuatan sebuah lingkungan tidak diukur dari siapa yang menang, tetapi dari bagaimana warganya tetap saling menyapa, saling menjaga, dan saling percaya setelah pemungutan suara usai.
Jika kita mampu melewati perbedaan dengan hati yang lapang, maka kota Makassar yang kita cintai ini, akan terus menjadi ruang yang hangat tumbuhnya harapan dan kebersamaan**(Redaksi)






















Comment