Editorial: Rukyat dan Hisab: Dua Jalan, Satu Tujuan, Satu Kedewasaan

Rukyat dan Hisab: Dua Jalan, Satu Tujuan, Satu Kedewasaan

Di Indonesia, perbedaan bukanlah sesuatu yang asing. Perbedaan itu hadir dalam khazanah kehidupan.

Perbedaan dari sisi bahasa daerah, budaya, pilihan politik, bahkan selera kuliner.

Ketika perbedaan juga muncul dalam penentuan awal Ramadan antara metode rukyat dan hisab, maka keberagaman cara memahami hal yang sama.

Pertanyaan yang sering muncul terdengar sederhana dan terasa logis. Mengapa harus berbeda, jika bulan dan langit yang kita lihat sama?

Mungkin persoalannya bukan pada perbedaan itu sendiri, hanya pada cara kita memaknainya.

Dalam sejarah peradaban, manusia hampir selalu menemukan lebih dari satu jalan untuk memahami kebenaran.

misalnya sains dan pengalaman, perhitungan dan pengamatan, akal dan tradisi. Semua itu berkembang tidak untuk saling meniadakan, keduanya memperkaya.

Rukyat mengajak manusia menengadah, menunggu dengan sabar, membaca tanda-tanda alam yang halus dan sering kali nyaris tak terlihat.

Ada dimensi kebersamaa. Orang berkumpul di tepi pantai, di puncak bukit, atau di halaman observatorium, menatap langit yang sama, menanti garis tipis cahaya yang menjadi penanda waktu suci.

Dalam proses itu, manusia merasakan keterhubungan dengan semesta, tradisi, dan sesamanya.

Ada pelajaran tentang kerendahan hati, jika tidak semua hal bisa dipastikan seketika, bahwa cuaca, cahaya, dan waktu memiliki perannya sendiri dalam mengungkapkan kebenaran.

Hisab, di sisi lain, menawarkan ketenangan yang lahir dari kepastian. Hisab berdiri di atas akumulasi pengetahuan, ketelitian angka, dan kepercayaan pada kemampuan akal manusia membaca keteraturan kosmos.

Dengan hisab, waktu dapat diprediksi, direncanakan, disusun jauh sebelum langit menampakkan isyaratnya.

Ada rasa tanggung jawab yang tumbuh dari kemampuan merencanakan Ibadah, perjalanan, bahkan ritme sosial masyarakat dapat dipersiapkan dengan lebih tertib.

Hisab menunjukkan iman tidak harus menjauh dari ilmu. Justru keduanya dapat berjalan beriringan, saling meneguhkan bila keteraturan alam dapat dipahami sekaligus disyukuri.

Jika dipandang lebih dalam, perbedaan antara rukyat dan hisab bukanlah pertentangan antara tradisi dan modernitas, atau antara pengalaman dan rasionalitas.

Lebih menyerupai dua bahasa berbeda yang digunakan untuk menceritakan kisah yang sama tentang waktu, keteraturan langit, dan usaha manusia menyesuaikan diri dengan kehendak Ilahi.

Yang satu berbicara melalui pengalaman langsung, yang lain melalui rumusan matematis.

Namun keduanya sama-sama berangkat dari keyakinan jika alam semesta memiliki keteraturan yang dapat dikenali.

Di titik inilah makna sosialnya menjadi penting. Perbedaan metode sebenarnya membuka ruang bagi umat untuk belajar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penentuan kalender.

Hikmahnya,  kemampuan hidup berdampingan dengan perbedaan yang sah secara intelektual maupun spiritual.

Tidak semua kesatuan harus lahir dari keseragaman. Ada kesatuan yang justru tumbuh dari kesediaan untuk mengakui jika jalan menuju tujuan bersama bisa beragam.

Masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang meniadakan perbedaan, tapi yang mampu menempatkan perbedaan dalam kerangka tujuan yang sama.

Rukyat mengingatkan manusia pada pengalaman kebersamaan dan kesadaran kosmik. Hisab mengingatkan pada pentingnya ilmu dan perencanaan.

Jika keduanya dipahami sebagai pelajaran, maka yang muncul bukan kebingungan, namun kelengkapan.

Barangkali di situlah pesan terdalamnya. Perbedaan tidak selalu menuntut penyelesaian, kadang hanya menuntut pemahaman.

Dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat, yang lebih penting bukanlah memastikan semua orang berjalan di jalur yang sama, tapi memastikan semua berjalan menuju arah yang sama dengan saling menghormati.

Antara menatap langit maupun membaca angka, manusia sedang melakukan hal yang serupa.

Mencari tanda, memahami waktu, dan menata hidup agar selaras dengan keyakinannya.

Dalam keberagaman cara itulah kita diingatkan bila kesatuan sejati dibangun dari kesamaan tujuan yang dijaga bersama dengan hati yang lapang.

Apapun metode yang digunakan, apakah rukyat atau hisab, tujuannya adalah sama.

Yakni, untuk menjalankan agama dengan baik dan mendapatkan rida dari Allah Azza Wajallah.

Marhaban ya ramadan, selanat menunaikan ibadah ramadan, baik yang memulai hari Rabu ini (18 Februari) maupun hari Kamis besok (19 Februari)

sekianG**

Comment