Setelah lama berada di Sulawesi, Eka pindah ke Surabaya. Di sana dia berjualan dengan cara unik, yakni menjual harga di bawah pasaran. Misalkan, dia selalu menjual hasil bumi seharga Rp9,5 rupiah. Padahal harga aslinya mencapai Rp10.
Eka paham bahwa dia rugi. Namun, berkat cara ini dia bisa kedatangan banyak pembeli, sehingga secara matematis bisa lebih untung dibanding kompetitor. Hasil keuntungan inilah yang kemudian menjadi modal pendirian CV Sinar Mas pada dekade 1960-an.
Awalnya, Eka menjadikan Sinar Mas sebagai perusahaan ekspor-impor hasil bumi dan tekstil. Bisnis ini sukses dan kemudian membesar. Namun, titik balik kejayaan Eka bermula ketika berjualan minyak goreng. Tahun 1969, Eka berinvestasi Rp800 juta di bawah bendera perusahaan PT Maskapai Perkebunan Sumcama Padang Halaban.
Nama merek dagangnya adalah Bimoli yang singkatan dari Bitung Manado Oil.
Alasan Eka berbisnis minyak goreng kelapa sawit karena saat itu sudah ada upaya menggantikan minyak sawit sebagai minyak goreng dari sebelumnya minyak kelapa.
Pada awalnya, dia membuka perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau.
Lalu perlahan perusahaan ini mengelola sekitar 138 ribu hektar kebun kelapa sawit di Indonesia dan menguasai 60% pasar minyak goreng.
Di tengah jalan, Eka Tjipta Widjaja bersama Sudono Salim bekerjasama menghasilkan juga minyak merek Firma dan Kunci Mas. Hanya saja perlahan, terjadi peralihan kepemilikan karena permasalahan bisnis.






















Comment