Sepak Terjang Panti Asuhan Kasih Ibu dalam Misi Kemanusiaan Konflik Timor Timur (Timor Leste)

200 Pengungsi Timtim jadi Muallaf


Salah satu bentuk campur tangan sosial Pantin Asuhan Kasih Ibu menampung 500 pengungsi Timor Timur dalam dua periode dari 1999-2000. Tak bisa disangkal bahwa terjalinnya hubungan mesra persaaudaraan antara pengungsi Timtim dengan masyarakat Sulawesi Selatan, adalah sumbangsih Panti Asuhan Kasih Ibu.

Referendum kemerdekaan negara Timor Timur atau Timtim pada tahun 1999 mengakibatkan masalah sosial seperti ratusan ribu warga Timor Timur terpaksa harus meninggalkan rumahnya dan mengungsi ke wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa dan Sulawesi akibat pro integrasi dengan Timor Timur.

Banyak pengungsi yang berdarah Sulawesi Selatan maupun warga wilayah Timor Barat yang pro integrasi lebih memilih mengungsi ke Makassar sambil menanti redanya masalah.

Banyak juga mengalami trauma psikologis akibat kekerasan dan konflik yang terjadi selama referendum. Beruntunglah 500 pengungsi yang masuk Makassar tanpa sanak keluarga berhasil ditampung di Panti Asuhan Kasih Ibu.

Di Makassar, pengungsi diperlakukan baik oleh warga masyarakat Makassar dan menjadi dukungan moril bagi mereka. Malah 200 pengungsi bertekad untuk menjadi muallaf, biar lebih dekat dengan masyarakat Makassar sesuai dalil dalam Alquran disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara” (Al-Hujurat: 10).

Melalui komunikasi dengan Al Markaz Al Islami, kemudian membantu melaksanakan proses pengislaman pengungsi ini, yang dipimpin langsung oleh DR. H. Rafii Yunus, MA, Imam Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Dengan demikian, Panti Asuhan Kasih Ibu bersama Hj. Nur Ainy Amin menyebarkan semangat humanisme kepada sesama manusia. Semoga semangat itu akan terus terjaga**(RM/GM)

Comment