Itulah peran SMSI. Mendekatkan dua sisi yang sering salah paham. Lewat pelatihan, dialog, dan etika bersama.
Media tetap kritis, tapi santun. Pemerintah tetap terbuka, tapi tangguh.
Bukan saling puji. Bukan saling jegal.
Saya suka kalimat Ketua Formatur SMSI Gowa, Bang Johanis UB: “Kami ingin menciptakan ruang kolaborasi, bukan konfrontasi.”
Sederhana. Tapi dalam. Karena media dan pemerintah seharusnya tidak berhadapan—mereka berdampingan.
Pelantikan SMSI Gowa nanti mungkin tidak megah. Tapi bisa jadi bersejarah.
Kalau dijalankan dengan niat yang benar.
Media yang sehat tidak hanya menulis berita. Tapi membangun kesadaran.
Dan SMSI yang kuat bukan yang punya banyak anggota, tapi yang dipercaya masyarakat dan pemerintahnya.
Saya membayangkan pelantikan ini jadi awal perubahan. Dari media yang berebut sensasi, menjadi media yang berebut kredibilitas. Dari hubungan curiga, menjadi hubungan yang saling percaya.
Kalau itu terjadi, Gowa tidak hanya punya sejarah masa lalu. Tapi juga sejarah baru dunia pers lokal.
Media dan pemerintah tidak harus sependapat. Tapi harus searah menuju kebenaran dan kemajuan.
Dan di antara keduanya, SMSI hadir. Merangkul. Tapi tegas. Menjaga agar dua sisi itu tak pernah benar-benar terputus.






















Comment