Arus Cahaya Indonesia Dorong Kurikulum Berbasis Cinta Berakar pada Kebudayaan Siri’ na Pacce

Arus Cahaya Indonesia Dorong Kurikulum Berbasis Cinta Berakar pada Kebudayaan Siri’ na Pacce

Dailymakassar.id—Makassar. Upaya menghadirkan pendidikan yang berakar pada nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kearifan lokal, Yayasan Arus Cahaya Indonesia menggelar Workshop Kurikulum Berbasis Cinta dengan Pendekatan Ekoteologi Kebudayaan Siri’ na Pacce.

Pelaksanaan workshop berlangsung di Balai Diklat Keagamaan Kota Makassar dan dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, Dr H. Muhammad S.Ag, M.Ag, Rabu (14/1/2026).

Kegiatan workshop diikuti oleh puluhan pendidik dan kepala madrasah tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah, serta pemerhati pendidikan.

Workshop menekankan pentingnya cinta sebagai fondasi kurikulum, bukan sekadar konsep emosional, tapi nilai etik yang menumbuhkan kepedulian terhadap sesama manusia, alam, dan Tuhan.

Pendekatan ekoteologi dipandang relevan dalam menjawab krisis lingkungan sekaligus krisis moral, dengan menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan.

Kearifan lokal Siri’ na Pacce diangkat sebagai roh kebudayaan dalam penyusunan kurikulum.

Nilai siri’ (harga diri dan martabat) dan pacce (empati serta solidaritas) dinilai sejalan dengan semangat pendidikan berbasis cinta yang mendorong peserta didik memiliki kepekaan sosial, integritas moral, dan keberanian membela nilai-nilai kemanusiaan.

Kepala Kementerian Agama H. Muhammad, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan keagamaan harus menjadi motor penguatan karakter, moderasi beragama, dan kepedulian ekologis.

Menurutnya, kurikulum berbasis cinta merupakan pendekatan strategis untuk membentuk generasi yang religius namun tetap inklusif, berbudaya, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

Ia juga menambahkan bahwa nilai-nilai lokal seperti Siri’ na Pacce merupakan kekayaan bangsa yang harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan.

“Kementerian Agama mendorong satuan pendidikan agar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab sosial yang bersumber dari agama dan budaya,” ujarnya.

Dalam workshop ini, peserta diajak merumuskan desain kurikulum yang kontekstual dengan mengintegrasikan nilai budaya lokal, spiritualitas, serta kesadaran ekologis ke dalam proses pembelajaran.

Diskusi dan studi kasus disajikan untuk menunjukkan contoh konkret penerapan kurikulum berbasis cinta di sekolah, madrasah, dan ruang-ruang pendidikan masyarakat.

Ketua Yayasan Arus Cahaya Indonesia, Akbar Hadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan.

“Kurikulum berbasis cinta dengan pendekatan ekoteologi dan Siri’ na Pacce adalah jalan membentuk manusia seutuhnya: berilmu, berhati nurani, berbudaya, dan berkomitmen menjaga harmoni kehidupan,” ungkapnya.

Adapun narasumber adalah M. Fadlan L Nasurung (Staf Rektor UIN dan aktivis kebudayaan) dan Ahmad Erwin (tokoh aktivis sosial dan pendidikan).

Acara dipandu oleh Nurul Husna Al Fayanah (Kepala MI MDIA Bontoala dan Ketua Fatayat NU Kota Makassar)

Melalui workshop ini diharapkan lahir rekomendasi serta model kurikulum yang dapat diadaptasi oleh lembaga pendidikan sebagai bagian dari gerakan pendidikan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai lokal Nusantara**(tbr)

Comment