
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut berkontribusi dalam kegiatan ini. Alhamdulillah, kepedulian alumni begitu besar hingga dana yang terkumpul bahkan melebihi target panitia,” ujar Ketua Panitia, Kamlah (Smapat 91).
Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Asta (Smapat 92) selaku Ketua Harian IKA Smapat Makassar. Dalam pesannya, ia kembali menegaskan komitmen organisasi alumni untuk terus menjalankan program unggulan berupa bantuan pendidikan bagi siswa yang kurang mampu.
“Semoga program ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi alumni lainnya untuk peduli pada adik-adik siswa yang kurang mampu,” ungkap Asta, menanamkan harapan agar IKA Smapat tidak hanya berhenti pada nostalgia, juga tumbuh menjadi gerakan kepedulian yang nyata.
Menjelang waktu berbuka, sekitar lima belas menit sebelum azan magrib berkumandang, tausiah disampaikan oleh ustaz Andi Naufal Abdullah.
Dengan tutur kata lembut dan meneduhkan, penceramah mengulas tema kegiatan “Menjalin Silaturahmi, Menguatkan Kebersamaan dalam Meraih Kemenangan”.
Menurutnya, makna kebersamaan dalam Ramadan, tentang bulan suci yang merawat hati agar tetap saling terhubung.
Di sela-sela kalimatnya yang tenang, seakan terasa bahwa Ramadan sedang menautkan kembali benang-benang persaudaraan lama.

Mengikat kenangan masa sekolah, rasa syukur hari ini, serta harapan untuk masa depan dalam satu nuansa kebersamaan untuk meraih kemenangan.
Tak lama kemudian, azan magrib pun mengalun lembut menembus langit senja Makassar. Percakapan seketika mereda, digantikan oleh doa yang dipanjatkan dengan khusyuk.
Tangan-tangan terangkat dalam syukur, lalu seteguk air menjadi penanda berakhirnya penantian panjang hari itu.
Setelahnya, alumni SMAN 4 Makassar berdiri dalam satu saf, menunaikan salat magrib berjamaah. Sebuah pemandangan seperti mengembalikan waktu ke masa lalu.
Usai salam terakhir ditutup dengan doa, suasana kembali hangat. Tawa kecil dan percakapan akrab mengalir di antara hidangan tersaji.
Malam pun turun perlahan, menyelimuti halaman sekolah dengan penuh ketenangan. Santap bersama menjadi penutup kegiatan hari itu.
Di bawah langit Makassar yang mulai gelap, pertemuan terasa seperti sebuah ikrar, bahwa waktu boleh saja berlalu. Tapi persaudaraan alumni Smapat selalu menemukan jalan untuk kembali pulang**(RM)






















Comment