
Dailymakassar.id—Makassar. Sejarah sering kali tidak lahir melalui panggung besar, justru muncul dari ruang kecil dan sederhana.
Di sana ia tumbuh perlahan, dari percakapan jujur, kegelisahan dibagi, dan pikiran-pikiran yang saling bertemu.
Begitulah kisah yang dihidupkan kembali dalam buku “Kamar Pertemuan Seniman”, sebuah rekam jejak membawa kita ke Benteng Ujung Pandang pada 29 Juni 1969.
Di kamar itu, sejumlah seniman berkumpul. Mereka tidak sedang merancang sesuatu yang besar dalam pengertian formal. Mereka hanya berdiskusi.
Namun justru dari diskusi yang bernas itulah, sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan mulai mengambil bentuk.
Buku setebal 129 halaman ditulis oleh Mattulada, H. Dg Mangemba, Henk Rondonuwu, dan Arsal Alhabsy, nama-nama yang tidak hanya menjadi saksi, juga pelaku dalam denyut kebudayaan itu sendiri.
Sentuhan editorial dari Nurlina Sjahrir dan Rusdin Tompo menjadikan buku ini sebagai dokumen sejarah, sekaligus bacaan yang mengalir dan reflektif.
Menariknya, pertemuan di kamar itu menjelma menjadi kesadaran kolektif. Bahwa kesenian membutuhkan wadah agar dialog terus berlangsung, gagasan terus dipertajam, dan karya terus dilahirkan.
Dari kesadaran itulah, hanya berselang waktu singkat, pada Juli 1969, lahirlah Dewan Kesenian Makassar (DKM). Di titik ini, kita melihat bagaimana pertemuan yang tampak sederhana dapat menjelma menjadi institusi.
Membaca buku ini seperti menelusuri kembali jejak yang menentukan. Bukan sekadar nostalgia, juga sebagai pengingat bila kita selalu membutuhkan “kamar-kamar pertemuan” di mana gagasan dapat tumbuh sebagai sumber kekayaan berpikir**(RM)
















Comment