Badai PHK Mulai Terjang Indonesia

Ilustrasi PHK

JAKARTA – Berdasarkan sumber dari Kementerian Ketenagakerjaan RI, periode Januari 2022 hingga November 2022 yang dilaporkan Provinsi, tercatat jumlah tenaga kerja ter-PHK di Indonesia sebanyak 12.935 orang.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut ada lebih dari satu juta pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang 2022.

Klaim tersebut mereka dasarkan pada data pengambilan klaim Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan oleh pekerja dengan alasan PHK  pada periode Januari-November 2022 yang mencapai 919.071 pekerja.

“Dari Januari sampai November 2022, sudah ter-PHK 919.071 pekerja. Ini orang yang mengambil Jaminan Hari Tua (JHT). Jadi kalau kita ambil Desember, itu sudah pasti satu juta lebih. Ini yang sudah jelas mengambil JHT karena PHK,” kata Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani, Rabu (4/1/2023).

Diketahui, Jumlah pekerja informal di Indonesia sebanyak 80,24 juta orang atau setara 59,31% pada Agustus 2022. Sementara, pekerja formal sebanyak 55,06 juta orang atau 40,69%.

Adapun defenisi Tenaga kerja formal menurut BPS adalah penduduk yang bekerja dengan status pekerjaan utama sebagai berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar dan buruh/karyawan/pegawai.

Prediksi PHK 2023.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun depan akan mengalami penurunan. Bahkan pelemahan ekonomi tersebut sudah mulai terjadi pada 3 aktor besar ekonomi global yakni Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Eropa.

Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi pada APBN 2023 mencapai 5,3% (year on year/yoy). Namun, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 5,2% menjadi 5% pada 2023. Bahkan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya 4,7% (yoy).

Proyeksi penurunan pertumbuhan OECD tersebut diperkirakan karena adanya permintaan domestik dan pertumbuhan konsumsi di sektor swasta yang tertahan di tengah inflasi yang masih akan tinggi.

Menurut staf khusus menteri ketenagakerjaan M. Reza Hafiz kondisi pertumbuhan ekonomi global yang menurun tahun depan akan berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Bahkan, ada 2 sektor yang berpotensi terdampak oleh gejolak ekonomi tahun depan yakni manufaktur dan startup teknologi.

“Sektor yang paling berdampak itu manufaktur, kedua mungkin di startup tapi sektor teknologi, informasi dan komunikasi yang perusahaannya masih di level startup,” ungkapnya dalam Indef School of Political Economy Jurnalisme Ekonomi, Selasa (14/12/2022), dikutip dari CNBC Indonesia.

BAHKAN, pabrik tekstil skala menengah-besar, dari hulu ke hilir ramai-ramai melakukan pemangkasan karyawan. Mulai dari mengurangi jam kerja, merumahkan dengan membayar upah 20%, tidak melanjutkan kontrak, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hal itu disampaikan Sekjen Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta.

Redma mengungkapkan, kini sudah ada lebih 100 ribu buruh tekstil yang terkena pemangkasan oleh perusahaan. Angka itu, ujarnya, bisa lebih besar lagi jika memperhitungkan tenaga penjahit industri kecil dan skala mikro.

“Kalau kondisi ini tidak segera diantisipasi pemerintah, bisa sampai 500 ribu orang di kuartal pertama tahun 2023 yang kena pengurangan. Tapi pemerintah nggak percaya,” kata Redma, Rabu (14/12/2022), dikutip dari CNBC Indonesia.

“Sekarang ini sudah ada sekitar 20 perusahaan garmen juga serat yang tutup. Mereka nggak lapor karena nanti akan disuruh bayar pesangon kalau PHK. Ada yang punya karyawan 1.000, disuruh masuk bergantian, ya cuma bersih-bersih pabrik, ngecat,” jelasnya.

JIKA PREDIKSI PHK 500 ribu orang di kuartal pertama tahun 2023 sektor garmen, lantas bagaimana dengan sektor lain? [ip]

Comment