
Dailymakassar.id – Makassar – Terkait dengan pademi virus corona atau covid-19, Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi satu diantara tiga provinsi yang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi), karena dianggap masih tinggi penyebaran covid-19.
“Gugus Tugas maupun kementerian, TNI dan Polri utamanya konsentrasi di 3 provinsi yang angka penyebarannya masih tinggi, yaitu di Jawa Timur, di Sulawesi Selatan dan di Kalimantan Selatan,” tutur Presiden saat memberikan pengantar pada Rapat Terbatas, Kamis (4/6/2020).
Terkait hal tersebut, Juru Bicara Gugus Tugas Coronavirus Disease (Covid-19) Pusat, Achmad Yurianto, menyarankan sejumlah strategi dalam upaya percepatan penanganan pandemi di Sulsel, salah satunya mendirikan Rumah Sakit Darurat.
“Saatnya Makassar mendirikan Rumah Sakit Darurat Covid. Tujuannya, menjadikan kompleks rumah sakit tersebut sebagai wilayah karantina. Jadi, tidak dibutuhkan ruang isolasi, tetapi seluruh kompleks diisolasi,” ujar Yurianto saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (7/6/2020).
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan ini memberi saran, misalnya, ada salah satu tempat bisa dijadikan wilayah karantina.
“Bisa menggunakan asrama haji,” kata Yurianto.
Yurianto menyarankan sebaiknya pasien yang dirawat dibagi menjadi dua bagian secara terpisah. Bila kasus positif hasil tes dari Polymerase Chain Reaction (PCR) berada satu tempat dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang belum dites PCR di tempat terpisah.
“Jika PDP hasil PCR negatif segera pindahkan ke RS lain. Jika positif dipindahkan ke bagian positif. Kasus PCR positif di Rumah Sakit lain yang gejalanya sedang, ringan dipindahkan semua ke Rumah Sakit Darurat,” ujarnya.
Yurianto mengemukakan ketersediaan ruang isolasi rumah sakit rujukan akan menyebabkan pasien Covid positif atau PDP terpaksa dirawat di luar ruangan isolasi atau tidak dirawat karena ruangan sudah penuh.
Mengenai akurasi pemeriksaan hasil Covid-19, lanjut Yurianto, diagnosa adalah pemeriksaan antigen dengan PCR. Sementara untuk rapid test hanya mengetahui apakah ada respons antibodi yang timbul akibat adanya antigen virus tersebut.
“Rapid negatif artinya ada dua, bisa saja belum terinfeksi atau terinfeksi tetapi antibodi belum terbentuk (infeksi kurang dari 7 hari). Hasil positif bisa diartikan ada infeksi (IgM) atau sudah pernah terinfeksi (IgG) atau positif palsu karena infeksi DBD,” ungkap Yurianto.
“Tidak ada jaminan bebas Covid untuk hasil rapid test maupun PCR negatif. Yang pasti belum terinfeksi, bisa saja setelah itu terinfeksi,” sambungnya.
Sebelumnya, diketahui Pemprov Sulsel mengubah beberapa hotel di Kota Makassar menjadi tempat karantina orang dalam pengawasan (ODP), orang tanpa gejala (OTG), pasien positif Covid-19, dan tenaga medis.
Adapun program yang dikenal dengan sebutan Wisata Covid-19, diklaim berhasil menyelamatkan 750 pasien terjangkit virus tersebut.
Menurut Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, jumlah 750 orang pasien Covid-19 ini berdasarkan perkembangan terakhir peserta program ini di beberapa hotel di Makassar.
“Wisata Covid-19 itu kita berhasil menyelamatkan 750-an. Itu kalau kita tidak lakukan (program wisata COVID-19), 750 bisa terpapar,” ungkap Nurdin Abdullah, usai rapat koordinasi dengan Forkompinda, MUI Sulsel, pihak perhotelan, restoran, pengusaha, PD Pasar dan GM Mall, di Posko Covid-19 Manunggal, Kamis (28/5/2020).
Setelah berhasil menyelamatkan 750 orang peserta program, Nurdin Abdullah menjelaskan, selanjutnya ditargetkan 740 orang lagi akan disisir untuk mengikuti program ini.
“Makanya saya bilang tadi 740 orang lagi ini, kita lagi nyari, kalau ini semua sudah masuk ke dalam, kita sudah bisa longgarkan,” jelasnya.
Selain itu, untuk menyisir lebih banyak lagi, Sulsel akan melakukan rapid test dan PCR massal tahap kedua dalam waktu dekat ini.
“Tahap kedua kita akan mulai lagi rapid test massal, PCR test massal, supaya kita bisa lebih cepat bisa menemukan orang-orang yang terpapar,” pungkas Nurdin Abdullah. (Ip)






















Comment