
Awan berarak melintas perlahan. Tanpa dentuman petir, tiba-tiba hujan. Setelah reda, mentari bersinar terik ditemani angin membawa partikel polusi. Di sisi lain, lebah yang dulu rajin menyerbuki bunga, kini semakin jarang terlihat. Bahkan, laut kekurangan ikan dan tanah kehilangan kesuburan. Fenomena tersebut bukanlah kisah drama berkelok-kelok, melainkan gejala bahaya melanda alam semesta.
Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Environment Programme (UNEP) bahwa fenomena alam itu disebut Triple Planetary Crisis: krisis iklim, krisis polusi, dan krisis keanekaragaman hayati. Ketiga krisis ini saling terkait dan menjadi ancaman eksistensial umat manusia.
Ternyata, dalangnya adalah energi fosil (fossil fuel). Minyak, gas, dan batu bara, dulu laksana madu, sekarang berubah racun. Setiap pembakaran batu bara, setiap bensin yang menguap, setiap semburan asap dari cerobong pabrik, seluruhnya menjadi lautan emisi karbon. Alhasil, suhu bumi merangkak naik, memicu perubahan iklim.
Arus Besar Transisi Energi
Arah dunia perlahan putar haluan dari energi fosil menuju energi hijau yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi, dan mengatasi perubahan iklim. Energi hijau misalnya tenaga bayu, surya, air, biomassa, hingga panas bumi yang bersumber dari energi baru terbarukan (EBT).
Sebagai negeri yang memiliki keindahan alam yang melimpah dan posisinya tepat berada di garis khatulistiwa, Indonesia melalui PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN turut ambil bagian dalam arus besar itu.
”Berbagai upaya heroik kami lakukan, karena PLN betul-betul peduli terhadap masa depan bumi dan generasi mendatang. Transisi energi ini penting, agar kita bisa mencapai kemandirian energi nasional dengan tidak bergantung pada energi fosil,” kata Darmawan Prasodjo, Dirut PLN saat meraih penghargaan Tokoh Inspiratif Penggerak Transisi Energi.
PLN di Garda Terdepan
PLN bukan semata-mata perusahaan milik negara yang menyediakan listrik secara menyeluruh. Namun juga mengalirkan kehidupan untuk masa depan bumi dan generasi mendatang. Maka, ketika pemerintah Indonesia berikrar Net Zero Emission (NZE), PLN pun mengambil peran berada di garda terdepan. tekad itu nyata termaktub dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
“Melalui RUPTL ini, PLN menjalankan mandat transisi energi dan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement menuju Net Zero Emissions,” beber Darmawan Prasodjo.
Apa yang dikatakan Darmawan terhadap kepedulian PLN akan masa depan bumi dan generasi mendatang, sudah dibuktikan dengan jejak-jejak indahnya. Salah satunya adalah pada tahun 2023 di resmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata, Jawa Barat yang merupakan terbesar di Asia Tenggara dan nomor 3 di dunia.
PLTS tersebut memberikan kontribusi terhadap NZE sebesar 245 GWh per tahun dan mengurangi emisi sebesar 214.000 ton per tahun. Dua tahun setelahnya, tepatnya di bulan Mei 2025, RUPTL 2025-2034 disahkan oleh Menteri ESDM sebagai RUPTL terhijau sepanjang sejarah dan mewujudkan kedaulatan energi dan percepatan transisi menuju EBT.
Panggung EBT di RUPTL 2025-2034
Roadmap strategis sistem kelistrikan nasional 10 tahun mendatang, didesain bergulir secara bertahap. Pada lima tahun pertama (2025–2029), pembangunan pembangkit baru merupakan perpaduan transisi dengan komposisi 45% atau 12,7 GW dari fosil, berdampingan dengan 44% atau 12,2 GW dari Energi Baru Terbarukan (EBT), yang kemudian diperkuat kehadiran sistem penyimpanan energi sebesar 11% atau 3,0 GW.
Memasuki fase kedua (2030–2034), arah kebijakan energi berubah. Pada periode ini, kontribusi fosil menyusut drastis hingga hanya 10% (3,9 GW), sementara EBT melesat jauh dengan porsi 73% (30,4 GW), didukung sistem penyimpanan energi yang menguat menjadi 17% (7,3 GW).






















Comment