Rupiah Tertekan, Pasar Masih Meragukan Stabilitas Global

Rupiah Tertekan, Pasar Masih Meragukan Stabilitas Global

Dailymakassar.id—Makassar. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/1), mata uang rupiah turun 0,13 persen ke level Rp 16.877 per dolar Amerika Serikat.

Bank Indonesia menilai tekanan tersebut bersumber dari faktor eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik global serta kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menyatakan bank sentral terus melakukan intervensi berkelanjutan di pasar domestik dan global untuk menjaga stabilitas rupiah.

Ia juga menyinggung adanya aliran masuk modal asing sebesar Rp 11 triliun. Namun, angka tersebut belum cukup kuat untuk sepenuhnya menahan tekanan jual di pasar valas.

Pemerintah tetap menyuarakan optimisme. Menteri Keuangan Purbaya meyakini rupiah akan kembali menguat dalam dua pekan ke depan seiring perbaikan kondisi ekonomi.

Keyakinan ini, menurut pelaku pasar, lebih mencerminkan harapan kebijakan ketimbang respons langsung terhadap dinamika global yang masih sarat ketidakpastian.

Dari sisi analis, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih struktural. Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh arus keluar dana asing, terutama dari surat utang negara.

Geopolitik global yang memburuk mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset yang dianggap lebih aman.

“Selama sentimen global belum membaik, tekanan terhadap rupiah akan terus berulang,” ujar Myrdal.

Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola.

Peringatan lebih keras datang dari Bank Dunia. Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Januari 2026, lembaga tersebut menilai gejolak politik global dan percepatan pelonggaran kebijakan moneter di negara maju telah mempercepat arus keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kondisi ini membuat rupiah rentan terhadap depresiasi lanjutan.
Bank Dunia secara eksplisit mengingatkan Bank Indonesia agar melakukan intervensi yang lebih dalam untuk meredam volatilitas nilai tukar.

Tanpa respons kebijakan yang lebih agresif, tekanan eksternal berpotensi menggerus stabilitas rupiah, sekaligus menguji ketahanan kredibilitas kebijakan moneter di tengah iklim global yang kian tidak bersahabat**(rm)

Comment