Bayangkan, Udara yang Kita Hirup Dikelola Manusia Indonesia

Oleh: Faisal Yusuf (Jurnalis)

PAGI-PAGI kamu bangun, mau tarik napas panjang sebelum salat subuh, tapi tiba-tiba ada notifikasi di HP: “Kuota oksigen harian Anda tersisa 2%. Silakan isi ulang di depot udara terdekat.”

Maka yang akan terjadi ada: Pertama, muncul SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Udara) di setiap perempatan. Bedanya bukan Pertamina, tapi Pernafasan Nasional. Antreannya? Ya Allah, sama persis kayak antre solar.

Truk-truk tabung oksigen antre dari subuh. Bapak-bapak ojek online bawa 2 tabung kosong di motor. Ibu-ibu bawa jerigen yang dimodifikasi jadi tabung napas.

Ada yang teriak, “yang subsidi jangan campur sama yang nonsubsidi!” Yang punya uang, bisa beli oksigen pertamax turbo – O2 98%, wangi mint, napasnya enteng, buat lari pagi jadi kencang.

Yang rakyat kecil? Dapat oksigen subsidi – O2 campur debu 70%. Dihirup batuk, tapi mau gimana lagi. Kalau tidak hirup, mati!

Kedua, ada kartu dan aplikasi. Mau napas harus pakai aplikasi MyOxygen. Daftar pakai KTP, KK, dan surat keterangan tidak mampu menahan napas.

Kalau belum verifikasi, napasmu dibatasi. Sehari cuma boleh 500 kali tarikan napas. Lewat dari itu, napasmu disuruh pelan-pelan, mode hemat.

Anak muda nongkrong bukan tanya, “wifi ada?” tapi “di sini sinyal oksigennya kencang gak?”

Ketiga, ada penimbun dan pasar gelap. Pasti akan ada yang menimbun udara bersih di puncak gunung Bawakaraeng, lalu dijual kalengan dengan harga 10x lipat pas musim kemarau dan polusi Makassar lagi parah-parahnya.

Orang kaya akan punya genset udara pribadi di rumah. AC mereka bukan pendingin lagi, tapi pencetak oksigen murni.

Orang miskin? Rebutan napas di gang sempit. Satu tabung dipakai sekeluarga bergantian. Bapak hirup, tahan, embuskan pelan-pelan buat anaknya hirup lagi.

Keempat, ini yang ngeri. Kalau BBM habis, motor kita yang mogok. Kalau udara dikelola manusia dan habis, kita yang mogok—selamanya!

Kita baru sadar selama ini Allah kasih udara tanpa antrean, tanpa kartu, tanpa subsidi, tanpa aplikasi. 24 jam nonstop, gratis, untuk orang baik dan orang jahat, untuk yang kaya dan yang miskin, untuk yang rajin salat dan yang tidak.

Tidak pernah telat kirim. Tidak pernah langka. Tidak pernah bilang “stok habis”. Coba kalau beneran dikelola manusia seperti BBM, mungkin kita sudah lama mati kehabisan napas cuma karena telat antre, atau karena server depot error.

Jadi, mungkin antre BBM itu pengingat halus dari Tuhan: “Lihat, begini repotnya kalau hal vital diurus manusia. Makanya, Aku yang urus langsung udara kalian.”

Comment