Ketua Fatayat NU Angkat Bicara dalam Diskusi Peningkatan Kapasitas Perempuan di Dunia Politik

Pembelajaran dari praktisi
Ir. H. Andi Nurhidayah (mantan Anggota DPRD) membagikan pengalaman pahitnya.


Dulu saya disebut emosional saat berdebat. Padahal rekan laki-laki dengan gaya sama dianggap tegas. Butuh waktu lama untuk membuktikan bahwa kepemimpinan punya banyak wajah,” bebernya.

Sementara Amrun Mandasini (Kabid Politik Dalam Negeri) menyoroti perlunya perubahan regulasi.


“Kuota 30% perempuan di parlemen tidak cukup jika tidak dibarengi dengan lingkungan yang mendukung,”  katanya.

Fatayat NU membeberkan tiga langkah konkret sebagai komitmen nyata, yakni: (1) Sekolah Kepemimpinan. Perempuan untuk melatih anggotanya menghadapi bias gender. (2) Forum dialog dengan parpol untuk mendorong rekruitmen yang adil. (3) Kolaborasi dengan KPU Sulsel memantau implementasi kebijakan afirmasi.

Sebelum penutupan acara, Dr. H. Fathur Rahim (Kepala Kesbangpol) berjanji agar tahun depan akan digelar pelatihan khusus untuk melawan stereotip, bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis.

Pesan penutup dalam acara tersebut, Nurul Husna berkata tegas:: “Kami tidak mau lagi disebut cantik berpolitik. Kami ingin diakui sebagai pemimpin yang kompeten, titik!”**(tbr)

Comment