
Dailymakassar.id—Makassar. Di sudut kota yang sering luput dari perhatian, perubahan besar kadang justru dimulai dari sesuatu sederhana.
Sebidang tanah sempit yang dulu tidak terawat dan kumuh, lalu disentuh oleh niat baik dan kerja bersama.
Di RT 3 RW 11 jalan Baji Gau, Kompleks KPKN, tak jauh dari lingkungan sekolah SMAN 8 Makassar, sebuah lahan yang sebelumnya tak terurus kini menjelma menjadi ruang hidup hijau dan produktif.
Inisiatif ini lahir dari gagasan Lurah Bongaya, Andi Irmiyanti Mastulen, S.AP, yang melihat potensi di balik keterbatasan.
Urban farming, atau pertanian perkotaan, bukan sekadar tren. Ia adalah cara baru membaca kota, di mana ruang sempit pun bisa menjadi sumber pangan, ruang belajar, sekaligus tempat bertumbuh bersama.
Di tengah kepadatan dan minimnya lahan, praktik ini menawarkan solusi nyata dengan memanfaatkan pekarangan, lorong, hingga sudut yang selama ini terabaikan.
Apa yang terjadi di Bongaya memperlihatkan jika konsep ini bukan sekadar teori. Di atas lahan yang dulu tidak terawat dan kumuh, kini tumbuh beragam tanaman seperti ubi kayu, singkong, ubi jalar, hingga tanaman toga, terong, sawi, kangkung, bayam, dan cabai sebagai unggulan.
Bahkan, kolam ikan lele turut dihadirkan, menambah dimensi ketahanan pangan yang lebih luas.
Menurut Kasiber Bongaya, Syamsuddin, S.Sos, kawasan ini dibangun melalui kolaborasi bersama. Hasil gotong royong yang melibatkan warga, Ketua RT, Ketua RW, kelurahan, hingga kecamatan.
Ide itu sendiri muncul dari momen kerja bakti warga. Saat itulah, lahan kosong yang selama ini terabaikan dilihat dengan cara berbeda oleh Lurah Bongaya sebagai peluang.
Ketua RT 3, Ardiandrayani yang akrap disapa Maya, mengungkapkan rasa syukur. Baginya, perubahan ini bukan hanya soal estetika, berkaitan juga soal harapan.






















Comment