Majelis Taklim Khadijah Tebarkan Semangat Persaudaraan Melalui Maulid Nabi dan Perayaan HUT RI

Majelis Taklim Khadijah Tebarkan Semangat Persaudaraan Melalui Maulid Nabi dan Perayaan HUT RI

Dailymakassar.id—Makassar. Ada cara sederhana untuk merayakan kebersamaan. Duduk bersama, makan bersama, dan berbagi dalam suasana penuh keakraban.

Tidak harus mewah. Tidak pula membutuhkan panggung besar. Sebab, yang membuat sebuah perayaan bermakna adalah hati terbuka dan kemauan untuk saling membantu.

Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H dirangkaikan dengan Malam Ramah Tamah HUT Kemerdekaan RI ke-81 yang digelar Majelis Taklim Khadijah di Jalan Baji Gau, Makassar, Ahad (30/8/2026).

Mengusung tema “Jalin Silaturahmi, Raih Berkah, Rayakan Kemerdekaan”, kegiatan berlangsung di sekitar perumahan Kompleks KPKN, belakang SMAN 8 Makassar, itu menjadi ruang perjumpaan antara nilai keagamaan, semangat kebangsaan, dan kebersamaan warga.

Sejak persiapan, semangat gotong royong sudah terasa. Anggota Majelis Taklim Khadijah bersama pengurus RT/RW dan masyarakat sekitar bahu-membahu menyiapkan tempat acara. Panggung sederhana dibangun bersama, dengan tenaga dan kemampuan yang tersedia.

Setelah salat Magrib, para undangan mulai berdatangan dan memadati lokasi. Sekitar pukul 19.35 WITA, acara dimulai.

Nampak hadir Ketua Yayasan Masjid Khadijah, Ketua Majelis Taklim Khadijah, Lurah Bongaya, para ketua RT/RW, aparat Babinsa, serta masyarakat sekitar.

Sebelum acara seremonial dihelat, kebersamaan terlebih dahulu diwujudkan melalui santap malam bersama secara lesehan.

Beragam hidangan tersaji di hadapan para undangan dan masyarakat. Ada ayam, ikan, udang, daging, urap, tumis paria, goreng-goreng, mi goreng, telur, dan berbagai menu lainnya. Bahkan, sebuah nasi tumpeng turut melengkapi hidangan malam itu.

Yang menarik, kemeriahan tersebut tidak lahir dari kemewahan. Hidangan tersaji merupakan hasil sumbangan anggota Majelis Taklim Khadijah dan masyarakat. Semua berbagi sesuai kemampuan, kemudian menikmatinya bersama.

Dari sinilah gotong royong menemukan maknanya yang sederhana bahwa setiap orang memberikan apa yang dimilikinya, tanpa harus menunggu memiliki lebih.

Setelah santap malam, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran.

Acara seremonial kemudian diisi sambutan Ketua Majelis Taklim Khadijah, Ir. Hj. Andi Rachma Risman; Lurah Bongaya, Andi Irmiyanti Mastulen; Letkol. Cke. Sudirman, S.Sos.; serta Ketua Yayasan Nur Khadijah, Mayjend TNI (Purn.) Dr. H. Marga Taufik, SH, MH.

Rangkaian peringatan kemudian dilanjutkan dengan tausiah  disampaikan ustaz Muhammad Arsyad. Acara ditutup oleh hiburan dan pembagian hadiah lomba HUT kemerdekaan.

Suasana berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Para undangan dan masyarakat mengikuti seluruh rangkaian acara dengan antusias. Dua momentum berbeda, Maulid Nabi dan peringatan HUT Kemerdekaan, bertemu dalam satu suasana kebersamaan.

Pertemuan dua momentum tersebut menyampaikan pesan sederhana, tetapi penting. Maulid Nabi mengingatkan umat Islam pada keteladanan Rasulullah SAW dalam membangun persaudaraan, kasih sayang, kepedulian, dan kehidupan yang saling menghargai.

Sementara kemerdekaan mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan rasa syukur atas perjuangan para pendahulu bangsa. Keduanya bertemu dalam satu nilai—persaudaraan.

Persaudaraan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus dirawat melalui perjumpaan, kepedulian, dan kesediaan untuk mengambil bagian dalam kehidupan bersama.

Gotong royong yang terlihat dalam kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar cara mempersiapkan sebuah acara.

Ia merupakan cerminan kehidupan sosial yang tidak dibangun oleh satu atau dua orang. Sebuah lingkungan akan menjadi kuat ketika warganya merasa memiliki dan bersedia memberikan kontribusi.

Lesehan makan malam pun menghadirkan makna tersendiri. Tidak ada meja pembatas, tidak ada sekat memisahkan. Semua duduk bersama dan menikmati hidangan yang berasal dari kebersamaan mereka sendiri.

Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, ketika orang semakin mudah terhubung melalui teknologi tetapi terkadang semakin jarang duduk bersama, suasana seperti ini menjadi sesuatu yang berharga.

Kemajuan sebuah masyarakat terlihat dari kemampuan masyarakat menjaga hubungan antarmanusia, merawat kepedulian, dan membangun ruang-ruang kebersamaan.

Dari sebuah panggung sederhana, hidangan yang dibawa dari rumah, dan lesehan, Majelis Taklim Khadijah bersama warga menunjukkan bahwa perayaan yang sederhana pun dapat menghadirkan makna yang begitu dalam.

Maulid mengajarkan keteladanan. Kemerdekaan mengajarkan persatuan. Dan silaturahmi mengajarkan bahwa keduanya akan menjadi lebih berarti ketika diwujudkan dalam kebersamaan**(rm)

Comment