Opini: Perempuan dalam Keteguhan Cita-Cita

Oleh: Mubha Kahar Muang

(Mengenang ibu Corry Kahar Muzakkar)

Corry van Stenus yang lebih dikenal sebagai Ibu Corry, istri Kahar Muzakkar, berpulang ke rahmatullah di Jakarta, dua puluh tahun lalu tepatnya 1 April 2006.

Bersama Kahar Muzakkar, sang Patriot Pemberontak (meminjam istilah Prof. Mattulada), Ibu Corry dikaruniai tujuh orang putra, tiga di antaranya meninggal pada masa kanak-kanak.

Dalam kenangan yang amat dalam, Ibu Corry selalu terbayangkan dalam sebuah potret hitam-putih dengan kerudung putih menatap tersenyum seorang perwira militer berkacamata yang juga tersenyum samar.

Peristiwa Bonepute

Pertemuan yang berlangsung 21 Oktober 1961 di Bonepute, luwu Selatan, dimana Kolonel M. Jusuf bertemu dengan utusan Kahar Muzakkar, Ibu Corry untuk membahas penyelesaian masalah keamanan.

Ibu Corry berperan dalam upaya membuka jalur perundingan antara pihak Kahar Muzakkar dan pihak TNI.

Kolonel M.Jusuf selaku Panglima Kodam XIV Hasanuddin membujuk Kahar Muzakkar untuk keluar dari hutan.
M Jusuf menjanjikan penyelesaian damai bagi anggota bekas DI / TII.

Sebuah adegan yang amat akrab antara Ibu Corry dengan M.Jusuf.
Di antara keduanya duduk bocah bertopi, Abdullah Kahar Muzakkar putranya, dan di latar belakang menunggu anggota TNI lainnya. Sementara di kirinya, sang mertua.

Adegan dalam potret hitam putih itu, atau yang sering disebut Peristiwa Bonepute, seakan membicarakan banyak hal tentang seorang pendamping setia sang pejuang pemberontak yang disegani, yang dengan sikap dan ketulusannya, tentu sebagai perempuan, tetap tegar sampai akhir hayat.

Awalnya terdapat kesepakatan oleh M Jusuf untuk mengintegrasikan pasukan Kahar Muzakkar jika kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Namun tampaknya Kahar Muzakkar tetap memilih melanjutkan perjuangannya.

Pertemuan Bonepute menjadi catatan sejarah penting dalam upaya damai mengatasi konflik bersenjata di Sulawesi Selatan sebelum operasi militer yang lebih intensif dilakukan.

Paska pertemuan tersebut, konflik terus berlanjut hingga Kahar Muzakkar tewas tertembak pada tanggal 3 Februari 1965.

Peristiwa itu sekaligus menyurutkan semangat pasukan Kahar Muzakkar hingga Pemberontakan DI/ TII di Sulsel tahun 1965 berhasil di tumpas.

Peran Ibu Corry

Kurang lebih tiga minggu sebelum meninggal, Ibu Corry dengan kursi roda, masih sempat membesuk ke RS Fatmawati, Jakarta, karena putranya Abdullah Kahar Muzakkar terserang stroke ringan.

Di wajahnya yang telah termakan usia— Ibu Corry yang lahir di Jogjakarta 31 Desember 1922—masih tergurat semangat, optimisme, ketulusan dan juga keriangan tertakar yang sama dengan kenangan pada potret hitam putih itu pada Peristiwa Bonepute.

Walau kita tahu, jalan hidup yang telah ditempuhnya mendampingi Kahar Muzakkar, bukan jalan yang ringan.
Dan tentu bukan pula jalan yang dapat dilalui oleh semua orang.

Yang pertama tentu saja menyangkut pilihan. Ibu Corry adalah sosok perempuan yang berani menjatuhkan pilihan dan lebih dari itu berani konsekuen menerima risiko dari pilihannya. 

Kita bisa membayangkan bagaimana Ibu Corry muda memilih menanggalkan keyakinan agamanya untuk menjadi pemeluk Islam dan hidup bersama dengan seorang yang sangat terinspirasi dan konsisten berjuang untuk Islam, seorang Abdul Kahar Muzakkar.

Dari sini saja, kita kemudian dapat mengambil pelajaran bahwa perempuan memang memiliki ketangguhan untuk menerima konsekuensi dari kehidupan.

Bahkan yang dipaksakan oleh lingkungan di luar diri dan kehendaknya sebagai perempuan sekalipun. Sesuatu yang dapat diduga merupakan satu keunggulan alamiah dalam kehidupan perempuan.

Dari kesiapan, kesediaan dan daya tahan dalam menerima konsekuensi itu pulalah, seorang perempuan seperti Ibu Corry akan senantiasa menjadi inspirasi.

Dapat terbayangkan bagaimana seorang ibu harus membesarkan anak-anaknya dalam perjuangan di hutan-hutan Sulawesi Selatan dan Tenggara, memberi dorongan kepada suaminya pada saat-saat tertentu, dan dalam hal Ibu Corry, menjadi ibu bagi anggota pasukan suaminya.

Dapat pula dibayangkan bagaimana sulitnya kehidupan bergerilya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sebuah proses tergesa dan bergegas.

Momen dalam potret hitam putih itu juga bisa bercerita, bagaimana Ibu Corry tidak hanya memainkan peranan domestik khas perempuan, tetapi duduk mewakili suaminya, dalam sebuah pertemuan bersejarah di Bonepute.

Pertemuan yang dalam catatan sejarah Sulawesi Selatan merupakan arus balik bagi proses perjuangan Kahar Muzakkar.

Sebuah peran publik yang tidak dapat dianggap sepele karena menyangkut tidak saja keselamatan pasukan Kahar Muzakkar dan penyelesaian konflik bersenjata yang sudah berlangsung bertahun-tahun, tetapi juga sebuah peran kepemimpinan justru di tengah gejolak konflik dan lingkungan sosial budaya yang sangat patriarki.

Kita tentu dapat memperdebatkan peran kepemimpinan Ibu Corry dalam kasus pemberontakan Kahar Muzakkar, termasuk posisi dan peran yang dimainkannya.

Tetapi satu hal yang dapat dipastikan ialah bahwa Ibu Corry sebagai seorang perempuan telah mempertontonkan sebuah gambar yang sangat jernih bagaimana seorang perempuan sebaiknya memposisikan diri di tengah krisis.

Bagaimana dia secara dinamis memainkan peran domestik dan peran publik di dalam sebuah situasi yang tidak biasa.

Sebuah peran timbal balik dalam satu kesatuan yang kemudian membentuk dan mematangkan kepribadiannya, membentuk citra diri suaminya sebagai Pejuang Pemberontak, citra seorang yang memperjuangkan sebuah cita-cita yang luhur. 

Dalam setiap perbincangan pribadi dengan Ibu Corry, dengan gestur atau bahasa tubuh yang sudah termakan usia, ia tetaplah seorang yang teguh – seorang pemeluk teguh. 

Kerudung yang membalut wajahnya, tatap mata dan tutur katanya yang halus ketika menanyakan dan menjawab banyak hal, tetap memancarkan aura seorang pemimpin, seorang yang kharismanya tak termakan usia.
Kharisma yang terbentuk dari peran-peran yang telah dimainkannya di sisi Kahar Muzakkar.

Kita seakan berada di sisi seorang ibu yang melindungi, tetapi sekaligus seorang ibu yang siap memberi hukuman atas kesalahan

Sebuah perpaduan sempurna dari seorang yang telah mengalami hal-hal yang luar biasa dalam perjalanan hidupnya. Seorang yang sepanjang hayat senantiasa menjalani kehidupan dalam sebuah proses pencapaian sebuah cita-cita.

Tidak berlebihan agaknya kalau Ibu Corry dapat dipandang sebagai sebuah inspirasi. Inspirasi bahwa perempuan, di sisi seorang besar, selalu akan memiliki kekuatan dan kebesarannya sendiri.

Dia tidak hanya berposisi sebagai pendamping melainkan lebih sebagai penopang.

Inspirasi dan teladan karena dalam sentrum perjuangan kaum perempuan saat ini, peran-peran publik yang dimainkan Ibu Corry di sisi seorang pejuang pemberontak, merupakan satu bentuk perwujudan kesetaraan yang patut menjadi bahan pelajaran dan renungan.

Kesanggupan membentuk karakter kepemimpinan kharismatik tersendiri di sisi seorang besar, justru ketika berada di tengah-tengah krisis yang berkepanjangan, di medan gerilya.

Dibalik keteguhan perjuangan seorang Kahar Muzakkar ada wanita hebat di belakangnya.

Selamat Hari Kartini

Comment