
Dailymakassar.id—Malino. Ada sesuatu yang selalu menarik ketika sebuah rapat kerja tidak digelar di tengah hiruk-pikuk kota. Kali ini Dewan Kesenian Makassar (DKM) melaksanakan rapat kerja di tempat yang berjuluk Kota Bunga.
Udara dingin yang menyapa dan hamparan pepohonan pinus seolah menjadi pengingat akan gagasan besar lahir dari pikiran yang tenang.
Kegiatan tersebut berlangsung mulai Jumat hingga Minggu, 24–26 Juli, di sebuah vila yang berdiri di atas perbukitan Malino, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Dari ketinggian itu, hamparan hijau dan udara pegunungan menjadi latar yang menenangkan bagi setiap pembahasan yang berlangsung.
Para pengurus baru DKM memanfaatkan momen ini untuk menyusun program kerja dan memperkuat komitmen kolektif agar DKM mampu menjadi motor penggerak kemajuan seni dan budaya di Kota Makassar.
Suasana hangat di dalam ruang rapat berpadu dengan dinginnya udara Malino, menghadirkan semangat baru yang diharapkan menjadi titik awal perjalanan DKM dalam melahirkan gagasan-gagasan kreatif yang berdampak bagi masyarakat.
Adapun agenda rapat kerja secara umum tersusun rapi mulai dari salat subuh berjemaah, senam bersama, sarapan, rapat kerja, makan malam, ditutup dengan hiburan.
Rapat kerja dimulai pukul 11.25 WITA pada hari Sabtu (25/7) yang dipandu langsung oleh Ketua Umum M. Juniar Arge, Ketua Harian Armin Mustamin Toputiri, Sekretaris Umum Budi Santoso, dan Bendahara Umum Anggraini Herman.
Momentum rapat kerja tahun ini terasa semakin istimewa karena DKM genap memasuki usianya yang ke-57. Namun, di tengah suasana senang dan rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi yang telah melahirkan banyak kontribusi bagi perkembangan seni dan budaya di Makassar.

DKM menghadapi persoalan yang pelik, terungkap dalam forum rapat kerja saat Ketum Juniar Arge memberikan sambutannya. Tentu saja segenap pengurus DKM menjadi sedikit khawatir atas berita yang tidak mengenakkan itu.
Pasalnya, sekretariat DKM yang terletak di Benteng Ujung Pandang atau berubah nama sejak Belanda merebutnya tahun 1667 menjadi Benteng Fort Rotterdam, segera dikosongkan karena berkaitan dengan revitalisasi benteng tersebut.
“Sebagai lembaga yang sangat peduli atas revitalisasi Benteng Fort Rotterdam yang merupakan salah satu proyek prioritas nasional Kementerian Kebudayaan RI, tentu kami setuju,” paparnya.
Juniar Arge melanjutkan, “Mari berpikir positif, untuk mengosongkan sekretariat. Inshaa Allah dalam waktu dekat kami akan menghadap ke pihak pengelola, bagaimana status sekretariat DKM setelah revitalisasi itu, apakah untuk sementara waktu saja dikosongkan atau seterusnya?”
Ironisnya, ketika DKM sedang merayakan usia yang semakin matang, organisasi ini harus bersiap meninggalkan ruang yang selama puluhan tahun menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan, karya, dan gerakan kebudayaan di Makassar, bahkan Sulawesi Selatan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Harian Dewan Kesenian Makassar, Armin Mustamin Toputiri memaparkan bila hasil rapat kerja akan menjadi petunjuk dalam pelaksanaan program kerja di tiap bidang dan komite.
Dalam kepengurusan DKM, ada tiga bidang yakni: Kesekretariatan, Humas, dan Logistik. Sementara itu, ada enam komite: Komite Seni Rupa, Seni Sastra, Seni Musik, Seni Film dan Sinematografi, Seni Teater, serta Seni Tari.
“Diharapkan seluruh bidang dan komite agar dapat menyusun program nyata yang terukur hingga berdampak kepada komunitas seni dan masyarakat,” tegas Armin.
Di temani hawa dingin Malino dalam setiap diskusi yang menghangat, menjadi simbol bahwa semangat berkesenian tidak pernah beku.
Justru menemukan ruang terbaik untuk bertumbuh, menyatukan visi, dan menegaskan komitmen DKM akan selalu hadir sebagai rumah bersama bagi para seniman, budayawan, dan seluruh insan kreatif di Kota Makassar**(rm)






















Comment