
Oleh: Rahmat Mustafa
BAYANGKAN Dewan Kesenian Makassar (DKM) bukan sekadar organisasi dengan struktur kepengurusan yang rapi di atas kertas.
Laksana perahu pinisi yang sedang berlayar di tengah lautan budaya yang luas dan tak bertepi.
Kini, nahkoda dan kru baru telah mengambil alih kemudi untuk periode 2026-2031.
Di awal pelayarannya, ketika semangat para pengurus masih membara setinggi tiang layar, langit tampak begitu ramah.
Angin sepoi berembus hangat membawa aroma manis tentang sebuah penggerak, fasilitator, dan pusat edukasi untuk melestarikan serta mengembangkan kesenian dan budaya lokal.
Mereka pun tertawa, bersenda gurau di dek kapal, merasa seolah-olah laut ini adalah kolam renang pribadi yang tenang.
“Mudah saja,” bisik hati kecil di antara mereka, sambil menyeruput kopi hangat yang cita rasanya begitu segar.
Namun, laut punya selera humor yang cukup gelap dan tidak selalu bisa ditebak. Tak lama sebelum jangkar diangkat, riak-riak kecil mulai menyapa membuat lambung perahu sedikit bergeser.
Jangan berkecil hati, kawan. Riak-riak kecil ini adalah bumbu dapur kehidupan. Tanpanya, perjalanan kita akan terasa hambar seperti nasi tanpa garam.
Justru dari gesekan-gesekan kecil inilah kita belajar bahwa seni itu subjektif, tapi kolaborasi itu objektif, harus terus berjalan, sambil memberi semangat satu sama lain.
Tentu saja, alam tidak selamanya mau diajak bercanda. Di ufuk kejauhan, awan hitam mulai bergulung lambat, pertanda ombak yang lebih besar sedang menyiapkan diri untuk menyambut.
Di saat-saat seperti ini, wajah-wajah ceria di dek kapal mungkin sedikit memudar, digantikan oleh kerutan dahi yang mendalam.
Kita mulai bertanya-tanya, “Apakah dayung kita cukup kuat? Apakah kompas visi misi masih menunjuk arah yang benar di tengah arus zaman yang begitu cepat berubah?”
Dan terkadang, jika nasib sedang kurang bersahabat, datanglah bayangan tsunami kehidupan—krisis tak terduga yang seolah ingin menelan perahu pinisi kita bulat-bulat.
Saat itu, laut terasa dingin, dan rasa khawatir mencoba membisikkan, “Berhenti saja. Pulang. Aman di darat!”
Namun, DKM bukanlah perahu yang dibangun untuk parkir di dermaga. DKM terdiri dari pelaut-pelaut seni yang tahu bahwa ombak besar bukanlah musuh, melainkan guru yang dahsyat.
Ombak menjaga keseimbangan saat tanah di bawah kaki kita goyah. Tali persaudaraan antar anggota DKM harus lebih kuat dibanding tarikan arus ombak.
Ingatlah, bahkan kapten kapal yang paling berpengalaman pun pernah mabuk laut, yang membedakan mereka adalah keberanian untuk tetap berdiri tegak meski perut sedang bergolak.
Jangan takut pada gemuruh ombak. Ketakutan hanya akan membuat tangan gemetar saat memegang dayung, dan pandangan menjadi kabur melihat mercusuar tujuan.
Jadikan ombak itu sebagai teman. Biarkan ia mendorong perahu DKM lebih cepat menuju pantai impian—kota Makassar yang warganya bangga pada budayanya sendiri.
Mari belajar menari bersama gelombang. Teruslah mendayung, wahai keluarga besar DKM. Lautan seni budaya Makassar menanti kisahmu.
Percayalah, pemandangan dari tengah laut jauh lebih indah dari sekadar memandanginya dari tepi pantai.
Selamat berlayar pengurus DKM masa bakti 2026-2031, semoga angin selalu berada di sisi layar—Kualleangi Tallanga Na Toalia**






















Comment