AAS Layak Calon Wapres, Ini Kata Pengamat

Andi Amran Sulaiman (dok)

Dailymakassar.id – Makassar. Relawan Andi Amran Sulaiman (RAAS) se-Indonesia mulai bergerak masif dan solidkan kekuatan, dukungan dan dorongan untuk Andi Amran Sulaiman (AAS) maju Pilpres. Adapun Deklarasi ini berlangsung melalui melalui live “Zoom, Facebook, Youtube, serta Instagram”, pada Jumat, 24 September 2024, pukul 14.00 WIB, 15.00 WITA dan 16.00 WIT. Deklarasi yang bertajuk “Andi Amran Sulaiman for Indonesia”, tercatat puluhan ribu relawan AAS dari perwakilan seluruh Indonesia hadir mulai dari tingkat pengurus 231 kabupaten/kota di 34 provinsi Indonesia.

Menanggapinya, pengamat politik dan kebijakan publik dari Pusat Kajian Politik dan Kebijakan (PKPK), M. Saifullah mengatakan AAS memang layak jadi Wapres.

“Alasannya, pertama AAS sudah pernah jadi Menteri. Kedua, basis massa AAS khususnya di Indonesia Timur sudah kuat, buktinya sejak pilpres 2014 lewat Sahabat Rakyatnya, AAS turut membantu Jokowi di Indonesia Timur. Jadi sudah lama AAS bangun jaringan di Timur,” kata M. Saifullah, Jumat (1/10/2021).

Selanjutnya alasan ketiga menurut Saifullah adalah AAS sosok yang komitmen bekerja untuk rakyat.

“Lihat saja saat jadi menteri Pertanian, AAS komit bela petani. Rekam jejaknya ada kok gampang didapat lewat jejak digital pemberitaan,” kata Saifullah.

Misalnya, kata Saifullah, sosok AAS terus teguh dalam pendiriannya menolak impor beras. Dan itu bukan sekedar kata kata saja, tapi berbagai upaya dilakukan seperti mencetus citra satelit agar stok sawah yang akan panen bisa diketahui dan jadi bukti tak perlu impor dengan alasan hanya melihat stok beras di gudang bulog. Selain itu program sergab atau serap gabah petani, ini upaya memutus mata rantai kartel atau tengkulak. (https://perfumesample.com) Mafia pangan pun terus diberantas, seperti contoh kasus PT ibu dulu.

Dan hasil terbukti dengan surplus nya stok padi dan menuju swasembada beras tentunya.

“Keempat, segi hukum AAS pencetus hadirnya KPK berkantor di Kementerian di era Jokowi. AAS langsung juga memecat siapa saja bawahannya yang korup tak pandang bulu,” kata Saifullah.

Kelima, lanjut Saifullah, soal materi AAS juga tak diragukan lagi. Bahkan ASS adalah menteri terkaya kabinet Jokowi kala itu.

“Bahkan AAS pernah di puji Jokowi saat menggunakan uang pribadinya dulu untuk serap bawang yang saat itu lagi langka. Itu semua demi petani dan agar tak impor tentunya,” jelasnya.

Keenam, AAS sosok pekerja keras.

“Salah satu menteri yang dimaklumi tak selalu bisa ikut rapat bersama Presiden adalah AAS. Mengapa, karena ASS terus mobile dilapangan memantau tugasnya agar sesuai target. ASS memang sosok yang komitmen, tanggung jawab dan tak mau malu,” kata Saifullah.

Kata Saifullah bahkan Rektor IPB, Arif Satria mencap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai menteri radikal lantaran gebrakannya dalam bidang pertanian mampu menghasilkan berbagai capaian membanggakan buat Indonesia, semisal naiknya produksi komoditas pertanian, ekspor dan meningkatnya kesejahteraan petani. Katanya, Mentan punya banyak terobosan, kerja keras yang luar biasa dan yang penting berani melawan mafia-mafia pangan.

Perlu dicatat juga, lanjut Saifullah, dulu pemerintah sering dikecam lantaraan kebijakan impor jagung ini jalan terus karena pasokan dalam negeri tak mencukupi. Tahun 2015 saja ada sekitar 3,5 juta ton jagung diimpor sampai menghabiskan anggaran mencapai Rp10 triliun. Pada periode 2010-2014, nilai impor jagung sangat variatif dengan laju pertumbuhannya mencapai 15,72 % per tahun. Total nilai devisa yang digunakan untuk impor jagung selama lima tahun tersebut mencapai USD3,57 miliar atau kira-kira mencapai Rp49 triliun”, tandasnya.

“Tentunya, dana sebesar itu akan lebih berguna jika dialokasikan ke program-program peningkatan kesejahteraan petani dan perekonomian nasional bukan?”, katanya.

Kemudian, menurut Saifullah, hanya dalam waktu 3 tahun saja, arah angin itu berbalik. Indonesia era ASS menjadi negara pengekspor jagung. Eksportir dalam artian urusan kebutuhan jagung nasional sudah terpenuhi. Memang, selama 2011-2015 Indonesia sudah melakukan ekspor jagung.  Tetapi yang berbeda dengan ekspor sekarang adalah ada ketimpangan nilai impor dan ekspor pada saat itu, alias defisit berat. Rata-rata ekspor jagung Indonesia saat itu hanya 24 ribu ton, sedangkan impornya rata-rata 2,50 juta ton. Bandingkan dengan data tahun ini saja, sejak Maret Indonesia sudah ekspor 60 ribu ton jagung asal Sulawesi Selatan ke Filipina.

“Usaha memutarbalikkan fakta dari importir ke eksportir ini tidak mudah. Pemerintah mesti jeli memperbaiki beberapa sektor secara berbarengan, dari meratakan persebaran produksi, distribusi, menjaga tren positif harga jagung. Dan juga harus berurusan dengan saudara kita sendiri yang tak bangga negaranya jadi eksportir”, jelasnya.

“Masih banyak lagi rekam jejak AAS yang terlalu panjang jika ingin dijelaskan. Sekali lagi AAS layak jadi Wapres perwakilan dari Indonesia Timur,”pungkas Saifullah. (Hd)

Comment