by

[OPINI] Memajukan Pariwisata dengan Paradigma Baru yang Terintegrasi

Abigail Gresela Pasande (ist)

Oleh: Abigail Gresela Pasande*

BERBICARA tentang sektor pariwisata tidak hanya sekadar menyoroti hal terkait objek tempat atau sebuah destinasi di mana wisatawan bisa berkunjung dan menikmati sebuah area geografis tertentu. Sektor pariwisata merupakan sektor yang demikian kompleks dan melibatkan banyak sektor lain sebagai kunci penunjang.

Hal inilah yang menjadikan sektor pariwisata menjadi sebuah kerja ‘gotong-royong yang sangat membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh stakeholder dan masyarakat yang ada di sebuah daerah.

Patut dipahami, saat ini, paradigma pariwisata dunia telah banyak bergeser. Dalam konstalasi paradigma lama dan konvensional, parawisata dimaknai oleh para ahli sebagai perjalanan yang penuh atau lengkap, yaitu bepergian dari suatu tempat tertentu ke satu atau beberapa tempat lain, singgah atau tinggal beberapa saat tanpa bermaksud untuk menetap, dan kemudian kembali ke tempat asal (Gamal, 2001:3; Soebagyo, 2010:70).

Dengan kata lain, tujuan pariwisata hanya menitikberatkan pada suatu lokasi tertentu atau destinasi tertentu yang sudah ada, tempat orang-orang (wisatawan) berkunjung.

Paradigma baru pariwisata saat ini mengalami transformasi yang cukup signifikan. Destinasi pariwisata bukan lagi hanya berhenti pada kunjungan wisatawan ke tempat-tempat yang sudah ada dan dinilai menarik atau unik di sebuah daerah. Paradigma baru pariwisata adalah bukan lagi membuat ‘cantik dan menarik’ sebuah tempat yang ada, namun telah bergeser menjadi ‘menciptakan’ sebuah tempat menjadi menarik dan memperoleh perhatian wisatawan.

Pemantik Baru Pariwisata

Saya pernah membaca sebuah artikel yang menarik bagaimana transformasi dan cara pandang baru yang mampu mengubah sebuah kota yang terhempas krisis menjadi kota yang mendadak tumbuh menjadi kota wisata yang demikian menyedot minat wisatawan.

Kota itu bernama Bilbao, sebuah kota yang terletak di negara Spanyol. Di sana museum justru menjadi ‘pelatuk’ ledakan pariwisata yang menjadi tinggok pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan warga di kota ini. Padahal museum saat itu hanya dianggap sebagai sekedar tempat penyimpanan benda masa lalu dan menjadi ‘beban’ sebuah kota untuk terus ‘membuang’ dana guna merawatnya.

Cerita tentang efek museum di Bilbao, Spanyol ini memang demikian spektakuler.  Setelah kejadian teror besar yang meluluh-lantakkan gedung pencakar langit Wall Street  di Amerika Serikat, kelesuan perekonomian kemudian menyebar ke penjuru dunia dan sampai juga ke kota Bilbao, Spanyol. Saat itu kota Bilbao yang mengandalkan sumber pendapatan kotanya lewat perdagangan dan jasa ini benar-benar terkena imbas kelesuhan perekonomian. Kota yang dikenal sebagai kota pelabuhan ini mengalami masa-masa krisis yang cukup mengkhawatirkan.

Di saat-saat seperti itulah, Walikota Bilbao mengambil terobosan kebijakan yang sangat bernas dan bercorak transformatif. Sang Mayorini melakukan lompatan paradigma kebijakan dengan mengambil basis keunggulan khas kota yang mereka miliki sebagai ‘pemantik’ gerak pertumbuhan ekonomi kotanya. Maka dipilihlah museum sebagai alat pemicunya. Museum Guggenheim yang berada di kota itu kemudian direnovasi secara besar-besaran. Sinergisitas antara seluruh stakeholder menjadi berdenyut kencang di sana. Museum kemudian menjadi semacam episentrumdi mana orbit perputaran ekonomi  kota ini bergerak kembali.

BACA JUGA  Usai Ikuti Pemilihan Duta Wisata Sulsel 2021, Ini Target Duta Wisata Lutra 2021

Kunjungan wisatawan adalah hal yang pertama dibidik oleh efek museum Guggenheim, Bilbao. Namun sebenarnya yang menjadi fenomenal dari kebijakan ini adalah munculnya dampak ikutan yang bersifat multiplier effect. Museum di Bilbao kemudian menjadi ‘pusat orbit’ pertumbuhan ekonomi,  di mana kunjungan wisatawan mampu menggerakkan berbagai sektor usaha lain yang menjadi penunjang, seperti perhotelan, transportasi, industri kerajinan serta jasa layanan lainnya. Dengan kata lain, efek museum Bilbao meletakkan sendi-sendi sebuah kota cerdas yang tumbuh bersama dinamika kreatifitas warganya.

Nampaknya kebehasilan yang dicapai oleh kota Bilbao kemudian memacu efek besar sampai ke luar negara Spanyol. Berbagai kota di Eropa kemudian menjadikan Bilbao sebagai rujukan sebuah kota yang sangat berhasil menemukan kekuatan lokalitasnya untuk pertumbuhan kesejahteraan warganya. Kota seperti Amsterdaam di negeri Belanda kemudian meniru transformasi kota seperti yang dilakukan kota Bilbao. Menjadikan museum sebagai pusat yang menggerakkan energi kreatifitas warga kota untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inovatif. Efeknya memang luar biasa. (smartcitymakassar.com)

Kisah efek museum Bilbao ini memberi sinyal kuat bila paradigma sektor pariwisata saat ini telah bergeser. Sektor pariwisata telah menjadi sebuah sektor yang sangat bisa menjadi pemantik besar dalam pertumbuhan ekonomi sebuah daerah. Sektor pariwisata juga merupakan sebuah industri yang sangat dinamis dan kreatif. Talenta-talenta berbakat sangat dibutuhkan dalam merancang serta memberi ‘greget’ baru dinamika pariwisata yang terus berubah.

Dalam Pesona Pariwisata Lutra

Kabupaten Luwu Utara (Lutra) Sulsel merupakan sebuah kabupaten yang memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Yang diperlukan saat ini adalah pengelolaan yang terintegrasi dari seluruh stakeholder agar pariwisata Lutra tumbuh menjadi sebuah industri.

Faktor-faktor penunjang yang paling penting dalam membangun industri pariwisata di Lutra adalah infrtastruktur yang memadai, akses transportasi yang cepat dan mudah, bangkitnya bisnis UMKM yang kreatif serta iklim budaya masyarakat yang berorientasi pada keterbukaan (inklusif), toleransi serta mempertahankan budaya lokal yang dimiliki.

Pariwisata dengan iklim terintegrasi seperti itu menjadi pemicu unik yang bisa ditumbuhkan Lutra bila seluruh stakeholder satu kata dalam melihat potensi besar pariwisata dalam ekonomi daerah saat ini.

Dengan demikian sektor pariwisata Lutra bisa menjadi penopang kuat dalam pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakatnya. Pariwisata Lutra bisa menjadi icon baru di Sulsel yang bersinar dari timur Indonesia. (*)

(Penulis adalah Putri Pariwisata Luwu Utara 2021 dan Ru-1 Putri Pariwisata Sulsel 2021)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *