Editorial: Egokrasi

Ilustrasi kekuasaan

Dailymakassar.id – SEJATINYA, kekuasaan adalah sebuah cara mengatur atau memanajemeni kewenangan yang emban atau diamanahkan. Kekuasaan dalam sejarah panjang terbentuknya senantiasa dilengketi dengan apa yang dinamakan komunikasi.

Tanpa komunikasi, maka kekuasaan akan menjelma menjadi kesewenang-wenangan. Dan itu bukan lagi kekuasaan tapi ke-egoan.

Ada banyak catatan sejarah bagaimana sebuah kekuasaan disulap menjadi ke-egoan yang menampik komunikasi. Cerita tentang otoritarianisme adalah salah satu tanda yang menyalak di sana.

Zaman terus berubah, berganti wajah. Peradaban kemudian memiliki banyak nama; abad pra sejarah, abad pertengahan, abad moderen dan bahkan ada yang disebut abad post moderen. Namun anehnya, otak yang melahirkan sikap manusia belum banyak beranjak dari berbagai zaman yang dilampauinya itu.

Kita, yang dinamakan manusia ini masih saja terjebak dalam naluri purba dalam menyikapi setiap persoalan. Ego atau rasa sombong karena memiliki hak istimewa (privelege) yang mengasiosasikan kekuasaan adalah bawaan insting purba yang terus kita junjung secara sadar atau tidak sadar.

Dari sinilah kepentingan diri, kelompok atau golongan dan bahkan nepotisme beranak-pinak. Kekuasaan diartikan sebagai hak prerogatif yang melekat seumur hidup dan menjadi bawaan kita sejak dari orok. Maka, persetan dengan komunikasi. Yang ada adalah perintah dengan jari telunjuk menjorok ke hidung.

Barangkali inilah yang banyak terjadi di negeri Indonesia. Para penyelenggara negara yang semestinya disebut pejabat publik diam-diam menghapus kata “publik” tersebut dan menyulapnya menjadi pejabat pemerintah. Kata “pemerintah” ini yang membuat kita rakyat biasa ini harus menunduk dan membungkuk hormat. Bahkan di kalangan antar pejabat pun pertunjukan ke-ego sentrisan berputar-putar, berkilau bagai iklan billboard di tepi jalan.

Makna dan arti koordinasi kehilangan sukma karena yang ada adalah si A dan si B (sesama pejabat) saling adu power ke egoaan. Hasilnya gampang ditebak. Program menjadi mangkrak atau sengaja dibuat mangkrak oleh pejabat lain karena menganggap dia lebih berkuasa dan sanggup menghentikan sebuah program.

Di Indonesia, di negeri ini, banyak program besar hanya berputar-putar seperti gasing. Bukan karena tidak baik tapi karena “perseteruan” egokrasi. [Redaksi]

Comment