Editorial: Demi Kemanusian, Kisah Pilu Pengungsi Rohingya Harus Diselesaikan

Dipublikasikan January 31, 2023 12:13 PM oleh Admin

Pengungsi Rohingya (int)

Dailymakassar.id – INDONESIA terus berupaya mengatasi penderitaan yang dialami para pengunsi Rohingya, yang melarikan diri karena dianiaya di negaranya, Myanmar. Pada Kamis lalu, pemerintah Indonesia kembali menyerukan menyerukan upaya regional untuk mengatasi krisis pengungsi Rohingya yang terdampar di laut setelah meninggalkan negara asal mereka, Myanmar.

ASEAN perlu bekerja sama dalam operasi penyelamatan para pengungsi Rohingya, sehingga tanggung bebannya tidak hanya pada Indonesia, demikian pernyataan seorang pejabat dari Kementerian Luar Negeri Indonesia Indonesia.

“Ke depan perlu dilakukan kerja sama di kawasan terkait dengan operasi penyelamatan tersebut, yang jadi PR bersama bukan hanya Indonesia tetapi juga oleh negara lain di kawasan ini,” kata Direktur Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan Kemlu, Achsanul Habib.

Sementara pada saat yang sama PBB mengatakan tingginya peningkatan jumlah kematian yang mengkhawatirkan dari kelompok minoritas Myanmar itu di laut.

Tahun lalu adalah yang paling mematikan sejak 2014 bagi Rohingya yang menempuh perjalanan laut yang berbahaya, kata badan pengungsi PBB, UNHCR, Rabu lalu.

“UNHCR telah mencatat peningkatan jumlah kematian yang mengkhawatirkan. Setidaknya 348 orang meninggal atau hilang di laut pada 2022, menjadikannya salah satu tahun paling mematikan sejak 2014,” kata juru bicara UNHCR Shabia Mantoo kepada wartawan di Jenewa.

Satu kapal dengan sekitar 180 pengungsi telah tenggelam pada bulan Desember, kata lembaga tersebut.

Ada lebih dari 3.500 orang Rohingya mencoba melakukan perjalanan laut yang mematikan dalam 39 perahu di Laut Andaman dan Teluk Benggala pada tahun 2022, menurut data UNHCR terbaru. Ini mewakili peningkatan 360% dari tahun 2021, ketika sekitar 700 orang menempuh perjalanan serupa.

Para pengungsi berusaha melarikan diri dari kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak di Cox’s Bazar di Bangladesh atau dari negara bagian Rakhine di Myanmar, yang merupakan negara asal mereka.

Sejak Desember, setidaknya tiga kapal yang membawa ratusan pengungsi Rohingya telah mendarat di Provinsi Aceh. Dua dari kapal ini telah berada di laut selama berminggu-minggu, dan sekitar 40 orang tewas di dalamnya, kata para pejabat terkait.

Kemlu mengatakan awal bulan ini bahwa kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh melonjak tahun lalu menjadi 574 orang. Sebagai perbandingan, antara tahun 2020 dan 2022, pejabat mencatat kedatangan 1.155 pengungsi Rohingya di Aceh.

UNHCR juga menegaskan bahwa sebagian besar kapal berangkat dari Myanmar dan kamp pengungsi di Bangladesh, karena meningkatnya rasa putus asa diantara warga Rohingya di kedua negara tersebut.

“Mereka yang turun melaporkan bahwa mereka melakukan perjalanan laut yang berbahaya ini dalam upaya mencari perlindungan, keamanan, reunifikasi keluarga, dan mata pencaharian di negara lain,” kata Mantoo.

“Di antara mereka adalah korban perdagangan manusia, anak-anak tanpa pendamping dan terpisah, serta penyintas kekerasan seksual dan gender.”

Sekitar 1 juta orang Rohingya, termasuk sekitar 740.000 orang yang melarikan diri dari Myanmar ketika terjadi serangan militer brutal di Rakhine pada tahun 2017, tinggal di kamp pengungsi yang padat di Cox’s Bazar.

Banyak orang tanpa kewarganegaraan menjadi putus asa karena mereka tidak melihat harapan untuk dipulangkan ke Myanmar, yang dilanda kekerasan setelah kudeta militer, kata kelompok advokasi hak asasi manusia dan LSM.

Para pengungsi Rohingya di Bangladesh juga tidak bisa bekerja atau menyekolahkan anak-anak mereka di kamp-kamp tersebut.

Saat ini sangat diperlukan rasa empati dan kemanusiaan dalam upaya penyelesaian krisis kemanusiaan ini. Mereka adalah saudara kita yang hanya ingin merasakan ketentraman dan hidup damai tanpa diteror ketakukan. Mari selamatkan mereka untuk sebuah persaudaraan kemanusian bersama. [Redaksi]

Comment