Hal senada diungkap oleh peneliti Pusat Kajian Politik dan Kebijakan Publik M. Luthfi. Menurutnya, sebuah koalisi besar yang dibentuk atas dasar pragmatisme serta cenderung dipaksa melalui mekanisme top down tidaklah memiliki basis kerekatan kuat.
“Bahkan cenderung melahirkan persaingan tidak sehat karena setiap partai memiliki agenda sendiri-sendiri,” ujarnya, Minggu (10/10/2024).
Dia menambahkan, dalam wataknya koalisi besar cenderung stagnan bahkan mengerogoti dirinya sendiri bila di sana tidak muncul leadership dari kandidat paslon.
“Memanajemeni koalisi politik sangat diperlukan sikap leadership yang kuat. Dan itu, katanya tak tercermin dari pergerakan kerja politik Andalan Hati selama ini,” kuncinya. (*)






















Comment