Kejernihan Ruang Publik di Antara Ijazah dan Pusaran Politik

Disinformasi paling cepat tumbuh di tempat di mana verifikasi paling sulit dilakukan. Keraguan menjadi komoditas yang mudah dijual, terutama bila berkelindan dengan ketidakpuasan politik yang lebih luas.

Kehadiran media sosial membuat isu seperti ini hidup lebih panjang. Algoritma digital lebih menyukai sensasi daripada akurasi.

Potongan video lama, unggahan tanpa verifikasi, atau klaim yang telah dibantah berkali-kali bisa kembali viral dalam hitungan jam.

Publik dibanjiri informasi, tetapi sering tanpa konteks. Di ruang seperti itu, klarifikasi berjalan tertatih, sementara dugaan berlari lebih cepat.

Dimensi psikologis ikut memperkuatnya. Secara alamiah, manusia condong pada cerita yang membangkitkan rasa ingin tahu. Terlebih lagi yang bernada negatif, mengandung misteri, ancaman, atau potensi bahaya.

Otak kita terprogram untuk memberi perhatian pada hal-hal yang bisa mengguncang tatanan sosial atau reputasi. Karena itu, skandal dan misteri selalu jadi magnet perhatian.

Tanpa menyebut pihak manapun, dalam politik selalu ada kelompok yang diuntungkan dari kegaduhan. Bisa jadi melemahkan citra pemerintah. Bisa juga, menaikkan engagement media. Bahkan,menjaga barisan pendukung tetap solid dengan isu tertentu.

Tuduhan mengenai keaslian ijazah menjadi salah satu strategi politik yang murah namun ampuh. Tidak membutuhkan bukti kompleks. Cukup sedikit keraguan yang disebarkan pada waktu yang tepat. Meski akhirnya terbukti tidak berdasar, jejak keraguannya sering tetap tertinggal.

Selama ruang bagi ketidakpercayaan masih terbuka, selama publik mencari jawaban yang sesuai dengan kecenderungan politiknya, isu seperti ini akan terus bermunculan.

Sengkarut mengenai keaslian ijazah hanya dapat mereda ketika ruang publik belajar mengambil jarak dari hiruk-pikuk tuduhan, dan kembali pada prinsip verifikasi yang benar.

Pemerintah, institusi pendidikan, serta media perlu menjaga transparansi. Di sisi lain, masyarakat diharapkan membiasakan diri memilah kabar sebelum menerimanya sebagai kebenaran.

Dengan begitu, perdebatan yang berkepanjangan dapat digantikan oleh dialog yang lebih jernih. Di mana kepercayaan dibangun oleh data yang valid, dan kedewasaan publik menjadi fondasinya**

Comment