Berikut percakapannya:
Nur Hasan: Pak, ini ada amanat.
Harun: Iya.
Nur Hasan: Bapak handphone-nya harus direndam di air, terus bapak standby di DPP.
Harun: Iya oke. Di mana disimpannya?
Nur Hasan: Direndam di air pak.
Harun: Di mana?
Nur Hasan: Enggak tahu deh saya, bilangnya direndam saja.
Harun: Gini saja, pak Hasan segera ini, itu kita ke itu, apa namanya aduh.
Nur Hasan: Halo, Pak?
Harun: Naik motor saja pak.
Nur Hasan: Ke mana?
Harun: Itu yang rumah dekat samping bis itu.
Nur Hasan: Pinggir sini pak? Kali?
Harun: Iya yang 20 itu.
Nur Hasan: Iya pak.
Harun: Eh, yang nomor 10 itu atau di DPP?
Nur Hasan: Ketemuan di situ saja soalnya di SS [Jalan Sutan Sjahrir] enggak ada orang pak, saya enggak bisa tinggal.
Harun: Bapak [Hasto] di mana?
Nur Hasan: Bapak lagi di luar.
Harun: Bapak suruh ke mana?
Nur Hasan: Perintahnya bapak suruh standby di DPP lalu handphone-nya harus direndam di air.
Harun: Di mananya?
Nur Hasan: Terserah bapak. Apa saya mau rendamin atau gimana?
Harun: Bapak meluncur sekarang, saya tunggu di dekat Teuku Umar. Naik motor saja.
Nur Hasan: Iya pak.
Harun: Yang di pompa bensin dekat Hotel Sofyan.
Nur Hasan: Oh Cut Meutia.
Harun: Sekarang berangkat ya.
Nur Hasan: Iya.






















Comment