KKN bukan sekadar program tahunan, melainkan bagian dari perjalanan membentuk jati diri mahasiswa sebagai calon pemimpin umat dan bangsa. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penempatan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) terintegrasi di luar pulau khususnya di daerah yang memiliki daya tarik wisata berpotensi menimbulkan efek FOMO (Fear of Missing Out) bagi sebagian mahasiswa.
Dalam situasi ini, motivasi mengikuti KKN bukan lagi semata-mata karena panggilan pengabdian atau keinginan belajar bersama masyarakat, melainkan karena tergoda menjadikan KKN sebagai ajang eksistensi, liburan terselubung, dan konten media sosial. Lokasi yang menarik dan pemandangan yang indah memang menjadi daya pikat tersendiri.
Namun, ketika fokus mahasiswa lebih tertuju pada estetika visual dibandingkan esensi program, maka KKN rawan berubah menjadi kegiatan formalitas belaka. Program kerja dijalankan seadanya, interaksi dengan masyarakat menjadi dangkal, dan nilai-nilai pengabdian perlahan tergantikan oleh pencitraan.
Jika hal ini terus terjadi, maka substansi dari KKN itu sendiri akan hilang. KKN bukan lagi wadah pembelajaran sosial dan penguatan karakter, melainkan hanya menjadi rutinitas akademik tanpa roh.
Padahal, tujuan utama dari KKN adalah agar mahasiswa belajar hadir secara nyata di tengah masyarakat, mendengarkan, merasakan, menganalisis, dan menawarkan solusi dari sudut pandang keilmuan mereka.
Makna dari KKN terintegrasi sebenarnya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Apakah kita menjalaninya dengan niat untuk belajar, mengabdi, dan tumbuh bersama masyarakat? Atau sekadar ikut-ikutan karena takut ketinggalan momen, tergoda lokasi yang estetik, dan menjadikannya ajang pamer di media sosial.
Yang menentukan apakah KKN ini benar-benar berdampak atau cuma jadi formalitas adalah niat dan mentalitas kita sendiri sebagai mahasiswa. Karena sejatinya, KKN bukan hanya soal tempat yang jauh dan indah, bukan soal dokumentasi yang keren, tapi tentang apa yang kita bawa saat datang dan apa yang kita tinggalkan saat pulang.
KKN itu ruang latihan kehidupan. Di sana kita belajar menghadapi realitas, memahami masyarakat, menyelesaikan masalah, menjalin relasi, dan menimba ilmu langsung dari kehidupan. Kalau niatnya kuat dan kesiapannya matang, KKN bisa jadi pengalaman yang tidak terlupakan bukan karena tempatnya, tapi karena maknanya.
Jadi, mari jalani KKN bukan cuma karena FOMO, tapi karena kita benar-benar ingin memberi makna. Tentu saja yang akan diingat bukan fotonya, tapi jejak yang kita tinggalkan**
Penulis: Aditya Rahman, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Makassar






















Comment