Refleksi atas Insiden Sekolah: Membangun Kembali Kepercayaan dan Empati

Sekolah seharusnya menjadi tempat berseminya kasih sayang dan rasa aman. Seringkali, reaksi berlebihan seorang guru dipicu oleh situasi mendesak atau akumulasi berbagai tekanan. Di balik luapan emosi itu, tentu terselip niat dan rasa cinta untuk melihat anak didiknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Kasus seperti ini bukan soal mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana bekas luka yang ditinggalkan bisa terobati dan berharap tidak terjadi lagi di masa datang.

Dunia pendidikan tidak akan maju jika hanya dipenuhi oleh hukuman dan rasa takut. Ia tumbuh dari kepercayaan, antara guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Semua harus memahami peran dan tanggung jawab masing-masing. Pendidikan sejati bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling mau memperbaiki diri.

Mungkin dari kejadian ini kita bisa belajar satu hal sederhana, bahwa mendidik bukan hanya soal menegakkan disiplin, tapi juga mengelola cinta. Cinta yang sabar tanpa melukai, yang marah tanpa membenci.

Tidak ada guru yang ingin menyakiti anak didiknya. Ia hanya ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik—cerdas akalnya, jernih kalbunya, dan sopan akhlaknya. 

Mari sejenak merenungi pesan indah dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara bahwa, guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa.

(Penulis adalah Wakil Ketua SMSI Provinsi Sulawesi Selatan Bidang Pendidikan)

Comment