Turki tahun 2005 adalah salah satu contoh keberhasilan, setelah tujuh tahun menata ekonominya. Turki menghapus enam nol dari mata uang lamanya.
Rumania, Bolivia, dan Ukraina pun berhasil melakukan hal serupa, karena semua didukung stabilitas dan komunikasi publik yang baik.
Namun, Zimbabwe menjadi pelajaran pahit. Mereka menghapus hingga 12 nol dari dolar Zimbabwe, tapi hiperinflasi tak kunjung berhenti.
Begitu pula negeri samba Brasil. Meski melakukan redenominasi sebanyak 6 kali, namun gagal, karena masalah ekonomi tak terselesaikan di akarnya.
Sebenarnya, sejak tahun 2010 rencana redenominasi rupiah sudah muncul. Namun hingga kini Bank Indonesia masih menunggu waktu yang tepat.
Redenominasi bukan sekadar soal angka, tapi soal kepercayaan, pada ekonomi, pemerintah, dan masa depan itu sendiri.
Karena pada akhirnya, nilai uang tak hanya ada pada angka, tetapi pada stabilitas dan kepercayaan yang menopangnya**(Redaksi)






















Comment