
Oleh: Prof. Dr. KH. Arifuddin Ahmad, M.Ag
MENYAMBUT momentum pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, umat Muslim diajak untuk tidak sekadar melihat pergantian tahun sebagai perpindahan angka di kalender.
Momentum ini harus menjadi panggilan spiritual untuk berhenti sejenak, mengevaluasi diri (muhasabah), serta memperbaiki arah hidup dan memperkuat hubungan sosial (ukhuwah).
Pesan mendalam ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Hasyr ayat 18, yang mengajarkan bahwa hidup seorang Muslim harus penuh dengan evaluasi, khususnya mengenai apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok di akhirat.
Memaknai Hakikat Hijrah yang Sejati
Hijrah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah strategi perubahan dan keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan.
Merujuk pada Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim, hakikat hijrah hari ini tidak lagi berupa perpindahan fisik antarkota, melainkan perpindahan kualitas hidup (hijrah moral dan spiritual).
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Beberapa poin penting perubahan kualitas hidup yang ditekankan dalam hijrah spiritual saat ini antara lain:
* Dari lalai menuju taat dan dari amarah menuju kesabaran.
* Dari egoisme menuju kepedulian.
* Dari permusuhan menuju persaudaraan (ukhuwah).
* Dari penyebaran berita bohong menuju budaya tabayyun (klarifikasi).
* Dari saling menjatuhkan menuju saling menguatkan.
Hijrah Sosial demi Makassar yang Mulia
Sebagai kota besar yang maju dalam sektor perdagangan, pendidikan, dan keberagaman suku serta organisasi, Kota Makassar tidak cukup jika hanya dibangun dengan infrastruktur beton dan gedung-gedung tinggi. Makassar dinilai harus dibangun di atas fondasi modal sosial dan spiritual yang kuat.
Masyarakat Bugis-Makassar sendiri telah memiliki warisan nilai luhur yang sangat Islami dan sejalan dengan misi Rasulullah SAW dalam menyempurnakan akhlak, yaitu:
Sipakatau (Saling memanusiakan)
Sipakalebbi (Saling menghormati)
Sipakainge’ (Saling mengingatkan dalam kebaikan)
Menjawab Tantangan Akhlak dan Polarisasi Saat ini, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar berupa polarisasi sosial, pertengkaran di media sosial, serta mudahnya memutus tali persaudaraan akibat perbedaan pilihan dan pandangan.
Padahal, hancurnya akhlak sebuah bangsa menjadi sinyal awal kehancuran sosial bangsa tersebut.
Melalui momentum Tahun Baru 1448 Hijriah ini, umat Islam—khususnya di Kota Makassar—diimbau untuk menerapkan Hijrah Sosial dengan merujuk pada QS. Al-Hujurat ayat 10 bahwa “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara”.
Masyarakat diajak untuk tidak mudah membenci, tidak memecah belah, dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas.
Sebaliknya, umat harus bersatu memperkuat institusi keluarga, memakmurkan Masjid, dan meningkatkan kepedulian sosial demi mewujudkan Makassar yang mulia, beragama maslahat, dan berkebudayaan maju.
(Penulis: Ketua FKUB Kota Makassar /Mubalig IMMIM)






















Comment