
AHAD siang itu (9/8), matahari menggantung tinggi di atas langit Makassar. Menumpahkan cahaya teriknya ke halaman dan dinding-dinding tua Benteng Fort Rotterdam.
Dari jendela kaca salah satu bangunan, cahaya memantul tajam, seolah hendak menegaskan bila hari itu adalah siang yang menggerahkan.
Meski demikian, Kota Daeng selalu punya cara sendiri untuk membuat cuaca terasa lebih bersahabat.
Dari arah barat, anging mammiri berembus lembut membawa kesegaran laut.
Angin dalam ingatan orang Bugis Makassar bukan sekadar gejala alam, namun bagian dari lanskap batin sebuah kota.
Ia datang dari arah Pantai Losari, menyusup di antara bangunan tua, lalu menyentuh halaman Sekretariat Dewan Kesenian Makassar (DKM).
Di sekretariat itulah kesibukan berlangsung. Tampak Ketua Umum M. Juniar Arge, Ketua Harian Armin Mustamin Toputiri, dan sejumlah pengurus sedang memindahkan barang-barang.
Tidak terlihat kesan jika aktivitas itu dilakukan dengan berat hati. Menariknya, kudapan khas Makassar—taripang—kue berbahan dasar tepung ketan dibalur dengan lelehan gula aren, serta minuman panas kopi dan teh ikut menemani.
Tentu saja, ada keringat bercucuran. Ada lelah ketika kursi diangkat dan barang-barang dipindahkan. Tetapi di sela kesibukan, tetap terselip gurauan dan tawa.
Sesekali percakapan ringan mengalir di antara para pengurus. Pekerjaan sederhana itu justru memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian.
Ya, sebuah organisasi bukan hanya dibangun oleh struktur, jabatan, atau program. Juga oleh kebersamaan orang-orang yang menghidupinya.
Satu demi satu benda keluar dari ruangan. Kursi tamu diangkat. Kursi rapat disusun lalu dibawa pergi.
Lukisan-lukisan selama ini menghiasi dinding diturunkan dengan hati-hati. Ada gambar besar, ada pula yang kecil. Semua memiliki tempat sendiri dalam ingatan ruang itu.
Dan ketika satu demi satu benda berpindah, perasaan ganjil mulai terasa. Dinding perlahan menjadi kosong, tempat menebar kehampaan.
Barangkali selama ini kami tidak menyadari betapa akrabnya ruangan itu. Setiap hari hadir sebagai hal yang biasa saja.
Padahal di sanalah banyak gagasan lahir, dibicarakan, diperdebatkan, bahkan sesekali dipertentangkan.
Di sana pula kesenian dan kebudayaan memperoleh ruang untuk dirawat. Bukan melalui keputusan besar, tapi melalui percakapan kecil yang mungkin tidak pernah tercatat.
Sebuah ruangan Tidak hanya kumpulan benda dan dinding. Ia menjadi berarti karena manusia meninggalkan jejak di dalamnya.
Di sana, para seniman dan pengurus DKM datang dan pergi. Ada membawa gagasan, ada membawa kegelisahan, ada pula sekadar datang untuk berbincang.
Dari pertemuan-pertemuan akrab itulah sebuah perjalanan panjang berlangsung secara perlahan dan tidak selalu terlihat.
Kini kursi berkurang. Meja kosong. Lukisan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari wajah ruangan ikut meninggalkan dinding.
Sekretariat bagai kehilangan wajah lamanya. Tetapi tidak sedang ditinggalkan. Hanya sementara beristirahat dari kesehariannya.
Benteng Fort Rotterdam akan menjalani revitalisasi oleh Kementerian Kebudayaan RI. Sebuah bangunan bersejarah memang membutuhkan perawatan agar tetap mampu menjalankan fungsinya secara maksimal.
Pengosongan ruang bukanlah akhir dari perjalanan. Justru menjadi jeda sebelum sebuah babak baru dimulai. Mungkin begitulah cara waktu bekerja pada sebuah tempat.
Ia mengajarkan bahwa tidak ada ruang yang benar-benar tetap. Dinding dapat berubah. Atap dapat diperbaiki. Kursi dapat dipindahkan. Lukisan dapat diturunkan.
Tetapi pengalaman manusia yang pernah berlangsung di dalamnya tidak serta-merta ikut hilang.
Sebab yang dipindahkan pada Ahad siang itu sesungguhnya bukan hanya kursi, meja, lukisan, dan perlengkapan sekretariat.
Ada bagian kecil dari ingatan ikut terangkat. Setiap lukisan yang diturunkan seperti membawa kisahnya sendiri.
Setiap meja dipindahkan laksana menyimpan kembali suara-suara yang pernah mengitarinya. Dan setiap sudut kosong mengingatkan kami bila kebudayaan tidak pernah benar-benar bertumpu pada benda. Kebudayaan hidup di dalam ingatan, gagasan, percakapan, dan kerja manusia.
Benteng Fort Rotterdam sendiri merupakan saksi panjang perubahan zaman. Dinding-dindingnya telah melihat berbagai kekuasaan datang dan pergi, menyaksikan Makassar berubah, dan menyimpan lapisan-lapisan sejarah yang tidak mungkin selesai dibaca dalam satu kunjungan.
Di antara dinding setua itu, sebuah sekretariat kesenian hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang tersebut.
Sejarah tidak selalu hadir melalui peristiwa besar. Ia kadang tumbuh dari aktivitas sederhana seperti kegiatan hari Ahad tersebut.
Pada saat itulah kita menyadari jika yang membuat sebuah tempat bersejarah bukan semata-mata usianya, melainkan kehidupan yang pernah berlangsung di dalamnya.
Karena itu, perpindahan sementara ini tidak perlu dibaca sebagai perpisahan. Ia adalah jeda. Setiap jeda memberi kesempatan kepada manusia untuk melihat kembali apa yang selama ini terlalu dekat untuk disadari.
Ketika saatnya kembali, mungkin ruangan itu tidak lagi persis sama. Dindingnya diperbarui. Tata ruangnya berubah. Beberapa benda mungkin menempati tempat yang berbeda.
Tetapi kami yakin ada sesuatu tetap tinggal. Semangat untuk menjaga kesenian. Kecintaan kepada kebudayaan. Dan ingatan bahwa ruang kebudayaan adalah tempat manusia merawat gagasan dan ingatan.
Di penghujung Ahad itu, sebelum berbalik arah, anging mammiri masih berembus dari arah barat. Lembut seperti biasa.
Seolah-olah ia sedang berbisik kepada kami: waktu boleh bergerak, tempat boleh berubah, dan sebuah ruang boleh diperbarui.
Selama manusia masih mencintai kesenian dan kebudayaan, jejak langkah itu tidak akan pernah benar-benar hilang.
Kami hanya sedang pergi sebentar. Tentu, untuk kembali**(Rahmat)






















Comment