Munas XI MUI akan Membahas Fenomena Artificial Intelligence (AI) dalam Proses Pemahaman Agama

AI bisa membantu mencari ayat, hadis, tafsir, atau materi kajian dengan cepat. Ia mempermudah akses ilmu, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Namun, hasil dari AI tetap perlu dikaji, diverifikasi, dan ditimbang oleh guru agama atau ustaz. Jangan menelan mentah-mentah tanpa bimbingan manusia yang berilmu.

Ilmu agama bukan hanya soal apa yang benar, tapi juga mengapa dan bagaimana kebenaran itu dijalani dengan hikmah.

AI bisa memberi data, tapi tidak bisa menanamkan adab, ketulusan, atau rasa takut kepada Allah.

Maka pembelajaran agama harus tetap berpusat pada penghayatan nilai, bukan hanya transfer informasi.

Teknologi bisa digunakan untuk menyebarkan pesan kebaikan misalmya, membuat konten dakwah, menulis refleksi, atau menjawab pertanyaan dasar agama.

Tapi tetap dengan niat yang lurus dan kontrol manusia. Gunakan AI untuk memperindah dakwah, bukan menggantikan peran pendakwah.

Agama mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab bisa menyesatkan. Begitu pula dengan AI yang canggih, tapi tanpa bimbingan hati dan iman, bisa disalahgunakan.

Maka, kita perlu menyeimbangkan antara akal digital dan hikmah spiritual**(Redaksi)

Comment