Editorial: Jagat Politik dan Media Sosial di Era Para Haters

Ilustrasi media sosial

Dailymakassar.id KITA kurang tahu pasti, sejak kapan dan bagaimana awal mula media sosial (medsos) menjadi ‘ranah’ untuk menebar kebencian.

Yang kita tahu, saat ini medsos demikian membuat suasana terlihat ‘horor’ oleh tebaran kebencian, fitnah dan banjirnya luapan caki-maki.

Di tahun 80-an, sewaktu medsos belum menjadi bagian dari keseharian kita- mimpi besar para pegiat (aktivis) politik muda dan cendekiawan di negeri ini adalah adanya sebuah masa di mana atmosfir kesadaran dan partisipasi  politik rakyat  di negeri ini tumbuh mekar.

Memang setiap zaman punya mimpinya sendiri. Saat itu, di masa Orde Baru tersebut, suasana politik memang terlihat ‘muram’.

Segalanya berjalan dengan dalam kewajaran yang semu. Rakyat dijauhkan dari partisipasi politik. Politik ‘pentung’ ala Orba memang demikian mampu ‘menjinakkan’ siapapun yang mencoba keluar dari jalur dan irama yang dikehendaki rezim yang ada.

Gelombang dan letupan reformasi yang mencapai puncaknya di tahun 1998 seperti memberi harapan akan munculnya masa di mana rakyat ikut ‘merayakan’ kesadaran politiknya.

Kesadaran politik rakyat bangkit dan hadir di era reformasi. Bergemuruh dalam angin perubahan yang demikian dahsyat.

Partisipasi politik rakyat menemukan momentumnya. Politik menjadi makanan‘cemilan’ murah dan bisa diperoleh di mana dan kapan saja.

Comment