
Dailymakassar.id—Makassar. Kekalahan selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah tim. Bagi Tim Nasional Indonesia, kekalahan di Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukan hanya soal hasil di papan skor, tetapi juga cerminan dari proses panjang pembinaan sepak bola nasional yang masih terus berbenah.
Dalam dua pertandingan terakhir di Grup B putaran keempat Kualifikasi Zona Asia, Indonesia harus mengakui keunggulan Arab Saudi dan Irak. Dua hasil tersebut menutup peluang skuad Garuda untuk melangkah lebih jauh. Namun, dari hasil yang diperoleh itu, muncul sejumlah catatan yang patut dihargai dan menjadi bahan evaluasi ke depan.
Perjalanan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang nyata. Melalui Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) telah meningkatkan dana pembinaan usia muda, memperbaiki fasilitas pelatihan, dan membangun stadion berstandar internasional FIFA.
Bahkan, penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) di Liga 1 dan Liga 2 menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia yang menggunakan teknologi tersebut di liga kasta kedua.
Selain itu, peningkatan kualitas pelatih dan wasit terus dilakukan melalui program pelatihan serta kerja sama dengan federasi sepak bola besar seperti KNVB Belanda. Langkah-langkah tersebut menunjukkan keseriusan untuk membangun fondasi sepak bola nasional yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Capaian di Piala Asia U-23 tahun lalu menjadi bukti bahwa perkembangan tersebut membawa hasil. Tim yang tidak diunggulkan justru mampu melangkah hingga semifinal. Indonesia berhasil mengalahkan Australia, menundukkan Yordania, dan menyingkirkan Korea Selatan melalui adu penalti. Pencapaian itu menjadi salah satu penampilan terbaik Indonesia di kancah Asia dan memberikan harapan baru bagi sepak bola nasional.
Namun, keberhasilan sesaat tidak boleh membuat lengah. Tantangan utama sepak bola Indonesia tetap berada pada konsistensi pembinaan dan tata kelola. Kritik terhadap liga domestik, perilaku suporter, dan manajemen kompetisi masih menjadi pekerjaan rumah. Di sisi lain, semangat publik yang tinggi terhadap tim nasional harus dijaga agar tidak berubah menjadi tekanan yang kontraproduktif.
Kekalahan dari Arab Saudi dan Irak memang mengecewakan, tetapi tidak seharusnya melemahkan semangat pembangunan sepak bola nasional. Seperti banyak negara lain di Asia—Jepang, Korea Selatan, atau Maroko—perjalanan menuju prestasi dunia memerlukan waktu, sistem, dan kesabaran.
Momentum pembenahan yang sudah dimulai harus terus dijaga. Pemerintah, federasi, klub, dan masyarakat perlu berjalan searah untuk memastikan proses ini berlanjut secara berkesinambungan.
Sayap Garuda mungkin patah untuk sementara, tetapi arah terbangnya tidak berubah. Indonesia masih memiliki modal besar berupa semangat, dukungan publik, dan tekad untuk terus maju.
Dengan komitmen dan kerja keras, bukan tidak mungkin, suatu hari nanti lagu Indonesia Raya akan bergema di panggung tertinggi sepak bola dunia**(Redaksi)






















Comment