Dengan kata lain, pendidikan melahirkan kemampuan hidup, bukan sekadar kemampuan kerja.
Berbeda dengan pendidikan vokasi yang berasal dari kata vocare, berarti panggilan atau profesi, pendidikan sarjana memiliki tujuan yang lebih luas.
Pendidikan vokasi memang ditujukan untuk menyiapkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu, sementara pendidikan sarjana berorientasi berpikir bebas, kritis, dan demokratis.
Pemegang gelar sarjana, dalam konteks sejarah dan sosial, dipandang sebagai pilar demokrasi.
Mereka diharapkan menjadi kelompok yang menjaga keterbukaan berpikir dan rasionalitas publik, mendorong lahirnya ide-ide baru yang dapat memperkuat masyarakat.
Dengan demikian, kampus bukan hanya tempat mencetak pekerja, tetapi laboratorium gagasan.
Di sanalah semestinya lahir pemikir-pemikir kritis dan menawarkan arah baru bagi bangsa.
Dunia modern kini bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas, di mana kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan memecahkan masalah jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan teknis.
Menariknya, ketiga kemampuan tersebut justru merupakan inti dari tradisi pendidikan sejak ratusan tahun lalu.
Kampus dan sekolah harus tetap menjadi ruang untuk menumbuhkan akal budi, bukan sekadar pabrik ijazah.
Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang apa yang kita pelajari, tetapi tentang bagaimana kita memahami hidup dan menempatkan diri di tengah masyarakat.
Di Indonesia, tantangan memahami kembali makna pendidikan ini menjadi semakin penting. Banyak perguruan tinggi yang terjebak dalam logika pasar, di mana nilai pendidikan diukur dari seberapa cepat lulusannya mendapat pekerjaan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, salah satu sumber pengangguran terbuka berasal dari lulusan perguruan tinggi sebesar 5,25 persen.
Angka ini menjadi cerminan bahwa pendidikan kita masih lebih banyak mengajarkan cara bekerja daripada cara berpikir.
Sebuah keniscayaan untuk mengembalikan roh pendidikan pada maknanya yang paling murni yaitu, membentuk manusia yang berpikir bebas, berjiwa kritis, dan berkepribadian luhur.
Ingat, bangsa yang besar bukan dibangun oleh banyaknya pekerja, tetapi oleh banyaknya pemikir yang berani bermimpi dan berbuat bagi kemanusiaan**(Redaksi)






















Comment